Kamis, 26 April 2018

CERPEN AKU



Nama              : Alfiana Zahwa Nur Rokhmat
NIM                : 175221009
Kelas               : Akuntansi Syariah 2A
Mata Kuliah : Ulumul Qur’an dan Hadist
 
  



Aku, Al-Qur’an, dan Hadist

            Tidak bisa dipungkiri bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat muslim di seluruh dunia. Pedoman di sini diartikan sebagai petunjuk bagi seluruh muslim. Karena dalam kehidupan kita sehari-hari semuanya telah diatur dan tertuang dalam kitab Al-Quranul karim. Meskipun begitu terkadang kita tidak menyadari betapa Al-Qur’an telah mengatur semua kehidupan kita. Al-Qur’an sangat dimuliakan akan semua kebenarannya yang telah terbukti.
            Al-Qur’an memiliki arti dalam cakupan luas, sehingga tidak bisa bila didefinisikan pada batasan tertentu. Sejalan dengan apa itu Al-Qur’an, terdapat hadist atau sunnah yang juga dipakai dalam landasan-landasan syariat. Hadist merupakan perkataan nabi yang elah diriwayatkan oleh perawi, yang dalam periwayatannya tersebut ditelusuri secara detail perkataan nabi tersebut. Sehingga dalam hadist-hadist yang telah diriwayatkan oleh para perawi juga terdapat tingkatan-tingkatan kelemahan maupun kebenarannya.
            Aku...
            Keluargaku bukanlah dari kalangan keluarga yang mengerti tentang agama dan Al-Qur’an apalagi hadist, keluargakuu sama sekali tidak tau. Maka dari itu ibuku menyuruhku untuk mengaji sewaktu aku duduk di bangku kelas 2 SD. Aku dipaksa ibuku untuk mengaji. Awalnya aku sangat malu bila bertemu orang banyak apalagi mengaji dengan orang banyak. Tapi karena paksaan-paksaanyang dilontarkan oleh ibuku aku semakin terbiasa mengaji dan mengetahui apa itu Al-Qur’an. Meskipun dulunya aku baru mempelajari IQRO’ dan Juz ama. Aku mengaji di TPA sampai aku duduk di bangku SMK. Berbagai pelajaran yang bisa kuambil sewaktu aku mengaji salah satunya mengenai bacaan Al-Qur’an dan syiir-syiir jawa lainnya.
            Aku memulai mengaji dari bacaan Al-Qur’an dengan diikuti tajwid. Tajwid penting agar bacaan yang kubaca bisa enak didengar, begitulah kata guruku mengaji. Guruku selalu memberikan berbagai nasihat sewaktu aku masih mengaji dengannya. Ia juga menjelaskan bahwa mengaji itu bisa mengasah otak melalui hafalan-hafalan surat pendek di juz 30, menghafal syiir-syiir, menghafal tajwid, dan yang lainnya. Ia juga tak segan-segan menghukum muridnya yang tidak hafal dengan membaca al fatihah sebanyak 100 kali. Hal tersebut ia lakukan agar muridnya bisa belajar dan tidak malas menghafal. Begitulah kisahku waktu mengaji dari SD sampai SMK. Banyak hal yang aku dapat mulai dari aku bisa mengerti bacaan sholat yang benar, berdzikir yang benar, dan tak lupa guruku selalu mengajarkanku untuk berbakti kepada orang tua.
            Setelah aku lulus SMK aku melanjutkan studi di IAIN Surakarta. Iya ini merupakan sekolah Islam yang notabene nya aku dulu sekolah di sekolah negeri biasa tanpa embel-embel Islam. Ini membuatkau sedikit minder dan takut tidak bisa mengikuti karena aku pun juga tidak perna mondok di pesantren. Namun pemikiranku itu bisa ku sirnakan dan aku mulai percaya diri bahwa aku bisa. Jika tidak begitu maka aku akan terbelenggu dengan keminderan yang semakin membuatku down. Di IAIN Surakarta ini aku bisa memperoleh pembelajaran lewat dosen-dosen yang mempunyai latar belakang pendidikan di pesantren. Salah satu dosen yang paling kusukai dan menginspirasi diriku adalah dosen bahasa arab, Bapak Sholihin. Ia merupakan dosen yang sangat kusukai dengan ketenangannya dalam menghadapi apapun. Kisahnya sewaktu di pesantren dan kuliah di luar negeri pun menginspirasi. Iya menginspirasiku untuk tidak usah berorientasi pada nilai. Meskipun diriku selalu berorientasi pada nilai, sedikit demi sedikit sekarang kucoba untuk berorientasi pada pengetahuan supaya ilmu ku yang kudapat sewaktu di bangku kuliah bermanfaat nantinya.
            Beralih dari ceritaku selama mengaji dan kuliah. Sekarang aku akan menceritakan sedikit pengetahuanku mengenai Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan obat hati. Hal itu yang sering terdengar dalam telinga kita. Mengapa demikian, karena para pembaca Al-Qur’an yang telah memahami isi dan mengamalkannya mersakan keutamaan-keutamaan membaca Al-Qur’an.
            Aku pun demikian, aku selalu merasa tenang sewaktu membaca Al-Qur’an. Aku merasa Al-Qur’an mempunyai daya tarik tersendiri untukku. Selalu aku sehabis sholat membaca Al-Qur’an meskipn hanya satu ruku’, karena dengan membaca Al-Qur’an hatiku tenang. Apalagi dengan keutamaan-keutamaan yang telah diriwayatkan dalam hadist-hadist, hal itu semakin membuatku ingin selalu membaca Al-Qur’an. Aku tidak menuntut apabila membaca Al-Qur’an akan masuk surga, aku hanya merasa dengan membaca Al-Qur’an aku mampu mengontrol diriku, terlebih jika memahami arti dalam setiap ayat Al-Qur’an. Terkadang diri ini ingin menangis ketika HP sering kupegang tapi Al-Qur’an hanya sebentar kupegang. Sungguh itu membuatku merasa malu dihadapan Allah.
            Menurutku membaca Al-Qur’an itu bisa mengasah otak kita karena dalam satu ayat Al-Qur’an terdapat berbagai bacaan tajwid yang tentunya kita juga harus memahaminya. Membaca Al-Qur’an itu tidak seperti membaca buku mata kuliah yang bila semakin jauh membaca maka akan semakin bosan.
            Dalam kitab yang diwahyukan kepada nai Muhammad SAW ini terdapat beberapa surat yang kusukai, salah satunya adalah surat Al Kahfi.terdapat berbagai keutaman membaca surat ini di hari jumat. Dan surat ini merupakan bacaan wajib di hari jumat setelah membaca surat Yaasin. Keutamaan membaca surat Al Kahfi di hari jumat juga telah tertuang dalam hadist sebagai berikut.
Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, bahwa nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “barangsiap yang membaca Al Kahfi pada hari jumat, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua jumat”
            Hadist di atas membuatku rajin membaca surat ini pada hari jumat. Selain membaca surat ini aku pun juga membaca surat lainnya.
            Beranjak dari hadist, aku akan menceritakan ketakjubanku pada ciptaan Allah yang kebenarannya itu ternyata telah tertuang dalam Al-Qur’an juga. Seperti halnya dalam QS. Al Fathir ayat 27 yang berbunyi :
“Tidaklah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beranekaragan jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (Al-Fathir ayat 27)
            Dalam ayat diatas, fenomena yang dijelaskan tersebut 14 abad yang lalu. Bahkan sebelum para sahabat dan Rasulullah datang dan berdakwah ke China. Fenomena tersebut merupakan fenomena Danaxia Lanform. Fenomena ini ditemukan di sebelah tenggara dan barat daya China, terdiri dari tebing-tebing lengkung warna-warni tepatnya berada di kota Zhangye, di provinsi Gansu, China. Selain fenomena gunug pelangi tersebut, masih terdapat fenomena-fenomena lainnya yang dalam Al-Qur’an telah dibuktikan antara lain fenomena sungai di bawah laut dan sebagainya. Akibat dari fenomena tersebut yang telah dibuktikan oleh Al-Qur’an, terdapat banyak ilmuan yang meneliti tentang fenomena tersebut memeluk Islam dan menjalankan amalan yang ada dalam Al-Qur’an.Hal inilah yang menjadi petunjuk bahwa di seluruh dunia ini telah diatur dan tertuang dalam Al-Qur’anul karim.




Esai Pengorbanan dan Pengabdian Khabbab bin Arats by Alfiana Zahwa



Nama               : Alfiana Zahwa Nur Rokhmat

NIM                  : 175221009

Kelas               : Akuntansi Syariah 2A

Mata Kuliah     : Sejarah Peradaban Islam

Tugas              : Esai
  
  
Identitas Buku
Judul            : “Khabbab bin Arats” Cahaya Islam Menerangi Jiwanya
Penulis         : A.Setiawan
Penerbit       : Titian Ilmu Bandung
Tebal            : 84 halaman + viii m
Cetakan        : Edisi revisi tahun 2007
ISBN              : 978 - 979 - 1304 - 00 – 9


PENGORBANAN DAN PENGABDIAN KHABBAB BIN ARATS

 
            Khabbab bin Arats salah satu sahabat nabi yang ahli membuat peralatan perang dan berburu. Ia hidup di zaman jahiliyah pada saat berhala masih menjadi sembahan di Mekah. Masa kecil Khabbab bin Arats sangatlah memprihatinkan, ia ditinggal oleh kedua orang tuanya ketika segerombolan orang meluluh lantahkan desanya dan terutama rumahnya. Ia lalu menjadi budak hingga dewasa setelah kepergian orang tuanya. Ia merasakan sifat majikan yang berbeda-beda selama menjadi budak. Karena Khabbab beberapa kali berpindah tangan dari seorang majikan.
            Setelah melalui masa yang lama menyembah berhala, mulailah Khabbab mengakui kerasulan Muhammad SAW. Pada awalnya Khabbab seorang yang taat dengan berhala, namun setelah kedatangan nabi Muhammad, ia mulai berpikir dan berangsur-angsur meninggalkan sesembahan berhalanya dan berpindah memeluk agam Islam. Ia meninggalkan segala kepandaiannya membuat pedang. Hal tersebut merupakan bentuk kecintaan Khabbab terhadap Allah dan Rasulullah. Kaum Quraisy mulai membenci Khabbab setelah ia masuk dan taat dengan ajaran Islam.             Kaum Quraisy yang mendengar kabar bahwa Khabbab memeluk agama Islam langsung menyiksa habis-habisan Khabbab. Dengan segala penyiksaan yang telah diterima oleh Khabbab, ia tak pernah menyerah dan kembali ke ajarannya yang lama. Penyiksaan besar semakin dirasakan oleh Khabbab tapi ia tetap teguh dengan ajaran Muhammad ini.
            Menurut buku “Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadist-hadist Shahih” M. Quraish Shihab menuliskan bahwa Khubbab bin al-Arats, seorang yang disiksa oleh majikan perempuannya yang musyrikah, pernah memohon kepada Nabi untuk berdoa kepada Allah kiranya Allah akan meringankan cobaannya. Lalu Nabi Muhammad mengingatkan bahwa siksaan kaum terdalulu tidak kalah pedihnya, namun mereka tetap mempertahankan keyakinan mereka. Lalu, beliau menanamkan semangat kepada para sahabat dengan bersabda:
“Pasti Allah akan menyempurnakan agama ini sampai akhirnya pengendara berpergian dari Shana’a ke Hadramaut dalam keadaan dia tidak takut kecuali kepada Allah dan serigala, jangan sampai gembalaannya diterkan olehnya. (itu pasti) tapi kalian ingin bersegera (HR. Bukhari).”
            Majikan dan algojo-algojo kaum Quraisy yang telah menyiksa habis-habisan Khabab dan pemeluk Islam lainnya ditimpahi qishah oleh Allah SWT dengan siksaan berupa diserang penyakit panas dan menyiksa seperti lolongan anjing. Ada yang mengatakan bahwa obatnya dengan menyetrika ubun-ubunnya dengan setrikaan panas ditiap pagi dan petang. Ini merupakan suatu balasan dari Allah terhadap apa yang telah dilakukan majikan Khabbab (Ummu Anmar) kepada Khabbab. Sudah sepatutnya Allah membalas  kekejaman tersebut. Wallahu ‘alam
            Setelah penyiksaan yang sangat memprihatinkan telah dialami oleh Khabbab, akhirnya ia dibebaskan dari siksaan dan menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW. Khabbab menjadi guru besar dengan mengajari para sahabat nabi lainnya mempelajari Al-Qur’an. Khabbab juga mempelajari adik Umar bin Khattab, Fatimah binti Khattab dan suaminya Said bin Zaid. Dengan Fatimah membaca Al-Qur’an dan disaksikan oleh Umar bin Khattab, langsung seketika Umar bin Khattab menemui Muhmmad dan memeluk Islam. Umar bin Khattab menjadi pelindung kaum muslim di manapun. Khabbab mempunyai peran besar dalam mengslamkan Umar bin Khattab.
            Seusai Umar menyatakan kekagumannya terhadap Al-Qur’an, Khabbab berkata kepada Umar: “Demi Allah aku mengharap Allah telah memilihmu untuk mengabulkan doa nabi-Nya. Kemarin kudengar Nabi. Saw berdoa: ‘ Ya Alah kukuhkanlah Islam dengan keislaman Abu al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar Ibn al-Khattab’” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
            Khabab senantiasa menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW. Semasa menjadi pengikut setia Rasulullah, Khabbab sangat taat dengan ajaran Islam. Pada saat baitul maal mengalami limpahan harta, Khabbab diberi harta yang cukup banyak, tetapi Khabbab tidak pernah menyembunyikan harta tersebut. Ia tidak pernah menikmati hartanya untuk hal-hal yang tidak perlu. Ia juga mengiyakan apabila terdapat seorang yang membutuhkan untuk diminta. Khabbab berpulang ke Rahmatullah pada tahun 37 H.
            Dari narasi singkat yang telah saya uraikan di atas tersebut terdapat banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Mulai dari Khabbab kecil hingga dewasa banyak hal yang bisa diteladani. Keteladanan seorang yang telah yakin dan teguh hatinya kepada Islam. Keteladanan yang menjadikannya berbeda dari sahabat nabi lainnya.
            Buku yang berjudul “Khabab bin Arats Cahaya Islam Menerangi Jiwanya” ini mempunyai tampilan tiga orang yang sedang duduk bersila dengan disuguhi sebuah Al-Qur’an. Tampilan ini bisa diilustrasikan orang yang berpakaian warna cokelat dengan sorban berwarna merah keputih-putihan adalah Sa’id bin Zaid. Warna cokelat dari pakaian yang dikenakan tersebut menggambarkan sifat ramah tamah dan ingin mendalami Al-Qur’an dari Khabbab .
            Sorban warna kemerah-merahan tersebut menandakan bahwa Said mempunyai keberanian dengan perbuatan yang dilakukan tersebut apabila diketahui oleh kaum Quraisy. Orang berpakaian warna biru adalah Fatimah binti Khattab. Warna biru menggambarkan ketenangan yang dimiliki oleh Fatimah binti Khattab. Dan orang yang berpakaian warna cokelat muda dengan sorban hijau adalah Khabbab bin Arats. Warna cokelat muda menggambarkan Khabbab seorang yang ramah dan warna sorban hijau menggambarkan kesejukan. Kesejukan tersebut seperti kesejukan hati Khabbab ketika mempelajari Al-Qur’an.
            Hal tersebut bisa saya ilustrasikan karena telah tertuang dalam buku ini halaman 61. Dalam tampilan buku ini menggambarkan isi buku di mana Khabbab setelah memeluk Islam menjadi narasumber dalam pengajaran Al-Qur’an, baik dalam hafalan maupun dalam hal lainnya.
            Islam merupakan agama yang sangat dijaga oleh Allah SWT. Agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ini mampu menerangi umat muslim dan di zaman jahiliyah. Dalam menjalankan misinya ini Nabi Muhammad memperoleh berbagai macam halangan dan rintangan yang harus dilaluinya. Semua itu dilakukan oleh nabi dengan ikhlas dan tak pernah mengeluh. Dengan segala kemampuannya, nabi rela berdakwah demi Islam.
            Dilihat dari cerita masa kecil kehilangan orang tua yang dialami oleh Khabbab, dalam hal ini keimanan seorang muslim akan diuji oleh Allah. Kehilangan kedua orang tua seperti yang dialami oleh khabbab ini akan senantiasa menjadikannya seorang yang tabah. Orang tua memanglah segalanya tapi jika Allah berkehendak lain maka apapun bisa terjadi. Seperti hadist yang biasa kita dengar “Ridho Allah terdapat dalam ridho orang tua”. Maka dari itu, jika kita masih memiliki kedua orang tua, muliakanlah mereka.
            Ketabahan yang dimiliki oleh seorang muslim haruslah juga seperti dengan Khabbab ini. Akan lebih baik lagi jika ketabahan kita sebagai orang muslim seperti dengan sifat Rasulullah SAW. Tabah dalam menghadapi segala cobaan patutlah mulai dibiasakan bagi muslim.
            Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yaitu QS. Al An’am ayat 52 sampai 54 yang telah dijelaskan dalam narasi di atas, dalam ayat tersebut Allah melalui Al-Qur’anul karim merangkul dan memuliakan hamba semacam Khabbab, Billal, atau Shuaib. Dengan demikian Rasulullah menyeru kepada umatnya agar memuliakan fakir miskin. Bukti dari kemuliaan ayat tersebut, Rasulullah memuliakan Khabbab ketika ia akan berpulang ke Rahmatullah dengan membentangkan kain untuk mereka duduk dan dirangkulnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Dari ayat di atas dapat kita resapi bagaimana Allah mengasihi hambanya yang taat. Sebagai seorang muslim di zaman ini seharusnya lebih bisa mentaatkan diri kepada Allah karena semua yang berada dalam diri kita, baik dalam jasmani maupun rohani tanpa Allah kita tidak akan bisa hidup. Allah akan senantiasa mengasihi hambanya yang taat. Taat dengan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
            Khabbab dewasa menjadi seorang pembuat pedang yang terkenal di Mekah. Dari secuil kalimat tersebut, di zaman sekarang kita pasti akan bahagia jika terkenal. Akan tetapi apakah ketenaran akan membuat kita bahagia selamanya ? tentu tidak bukan. Terkenal tidak akan menjamin bahagia seorang muslim. Justru kekeridhoan akan ketetapan Allah akan lebih menjadikan seorang hamba selalu bahagia. Bahagia seseorang pun mempunyai kadarnya sendiri-sendiri.
            Dari cerita Khabbab di atas, ia merasa dirinya bukan apa-apa jika masih menyembah berhala sehingga ia memilih mengakui kerasulan nabi Muhammad dan memeluk Islam. Dalam memeluk Islam di zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Zaman dahulu jika ada yang memeluk Islam makan akan disiksa habis-habisan dan pasti menderita. Lain halnya dengan zaman sekarang, memeluk Islam tidak akan diperangi oleh kaum non-muslim.
            Kemudahan-kemudahan yang telah dibawakan oleh Nabi Muhammad dari Allah sekarang ini malah cenderung diabaikan seorang muslim. Seorang muslim banyak yang memeluk Islam tetapi hanya sebagai status saja. Banyak dari muslim saat ini yang kurang taat dengan ajaran Islam, misalkan dalam hal sholat, puasa, zakat dan lain sebagianya. Meskipun tidak semua muslim di zaman saat ini seperti itu semua tapi hal ini seharunya menjadikan kesadaran terhadap diri sendiri. Apa kewajiban seorang muslim yang sesungguhnya harus dijalankan dan ditunaikan.
            Seorang muslim di zaman dulu dengan sekarang terdapat banyak perbedaaan, padahal ajaran-ajarannya sama. Apakah yang menjadi pembeda ? apakah karena tidak ada nabi atau bagaimana ? ini yang seharusnya menjadi PR untuk kita semua sebagai mahasswa dari Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Menyadarkan dii sendiri sangat baik, akan tetapi mengajak orang lain sadar dengan segala kewajiban seorang muslim akan lebih baik lagi.
            Dari narasi di atas dalam buku yang berjudul “Biografi 60 Sahabat Nabi” ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid juga mengemukakan bahwa Khabbab merupakan soerang yang tabah dari segala siksaan yang telah diberikan oleh kaum Quraisy (Khalid, 2013: 242). Dalam kalimat di atas ini dapat kita pahami mendalam bagiamana perbedaan antara proses memeluk Islam di zaman Rasulullah dengan zaman sekarang ini. Banyak siksaan yang dialami oleh orang yang baru masuk Islam di zaman Rasulullah.
            Siksaan yang diterima oleh kaum muslim di zaman Rasulullah tersebut tidak menggoyahkan keimanan seorang muslim. Dalam hal siksaan keimanan seorang muslim akan diuji oleh Allah. Sama halnya dengan sekarang ini, keimanan seorang muslim akan diuji dengan berbagai ujian. Ujian sekarang ini bukan lagi soal ujian dengan siksaan, tetapi ujian saat ini lebih cenderung ke sekulerisme. Lebih mementingkan keduniawian daripada akhirat. Sehingga banyak orang yang ngakunya Islam akan melakukan hak yang dilarang, mislanya dengan membuka aurat dan lain sebagainya.
            Majikan dan algojo-algojo kaum Quraisy yang telah menyiksa habis-habisan Khabab dan pemeluk Islam lainnya ditimpahi qishah oleh Allah SWT dengan siksaan yang pedih. Penyiksaan berupa qhisas yang diperoleh majikan dan algojo ini merupakan tanda kekuasaan Allah. Allah melaknat semua orang yang ingin memerangi agamanya. Allah akan senanriasa menjaga hambanya yang teguh dalam agama Islam seperti Khabbab dengan melaknat majikannya yang kejam.
            Khabbab menjadi guru besar dengan mengajari para sahabat nabi lainnya mempelajari Al-Qur’an. Khabbab juga mempelajari adik Umar bin Khattab, Fatimah binti Khattab dan suaminya Said bin Zaid. Dengan Fatimah membaca Al-Qur’an dan disaksikan oleh Umar bin Khattab, langsung seketika Umar bin Khattab menemui Muhmmad dan memeluk Islam.
            Dari narasi singkat tentang kepandaian Khabbab dalam mengajari Al-Qur’an tersebut, baik bila dicontoh oleh seorang muslim saat ini. Seorang muslim bisa menyalurkan ilmu pengetahuan tentang Al-Qur’an kepada muslim lain yang belum terlalu bisa sehingga ini akan menjadikan amal jariyah di akhirat nanti. Hal ini kita sebagai mahasiswa perguruan tinggi Islam bisa memulai dengan mengajar di TPA/TPQ di sekitar kampus maupun di lingkungan rumah. Mengajari membaca Al-Qur’an ini bisa membuktikan bahwa sebagai seorang mahasiswa perguruan tinggi Islam sangat meneladani perilaku yang dimiliki oleh Khabbab bin Arats lewat pembelajaran Al-Qur’an.
            Banyak orang muslim di akhir zaman ini yang lebih memilih menjadi individu yang bermewah-mewah dalam hal apapun. Kerja hanya dijadikan untuk memenuhi gaya hidup, padahal di samping itu masih terdapat hal yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Memprihatinkan jika seorang muslim tidakmenerapkan sifat yang dimiliki oleh Khabbab bin Arats ini. Sifat yang dimiliki oleh Khabbab bin Arats ini patutlah dicontoh oleh semua muslim. Sifat ketegaran, kesabaran, ketabahan, kesederhanaan, dan masih banyak lagi sifat Khabbab yang patut dicontoh.
            Khabbab mempunyai peran dalam pengislaman Khalifah Umar Ibn Khattab. Dalam proses pengislaman Umar ini juga terdapat Fatimah binti Khattab dan suaminya Sa’id. Fatimah dan Sa’id merupakan sepasang suami istri yang sedang belajar Al-Qur’an dengan Khabbab. Pertikaian antara Fatimah dengan Umar pada saat itu sangatlah sengit. Umar menyiksa Fatimah dan Sa’id hingga berlumuran darah demi mempertahankan keyakinannya terhadap Allah. Kemudian Umar iba dengan adiknya lalu ia memeluk Islam.
            Dilihat dari sisi kesetiaan sepasang suami istri antara Sa’id dengan Fatimah sangatlah seorang muslim yang taat, mereka rela disiksa demi mempertahankan keyakinannya kepada Allah dan Rasulnya. Mereka rela melindungi satu sama lain. Dalam hubungan rumah tangga saling melengkapi dan melindungi merupakan hal yang harus dilakukan atau bahkan menjadi suatu kewajiban.
            Dilihat dari sisi Umar, Seorang yang hatinya keras pun akhirnya kan luluh dengan  kemuliaan-kemuliaan yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Dalam kehidupan saat ini banyak orang yangmempunyai hati keras sekeras batu namun ia juga bisa dilunakkan secara  perlahan. Jadi dalam kehidupan yang sekarang ini mungkin sekali orang yang hatinya keras menjadii seorang yang rendah hati dan lunak hatinya.
            Islam agama yang sangat memuliakan seorang muslim yang baru memeluk Islam. Sehingga hal ini bisa mendorong orang non muslim lain untuk memeluk Islam dan menjadi bagian dari agama Islam. Seorang yang telah menjadi muslim akan mempunyai banyak perubahan sehingga menjadi insan yang lebih baik.
            Khabbab merupakan orang yang sangat dermawan dengan segala harta yang dimilikinya. Ia akan memberikan hartanya kepada siapa saja yang membutuhkannnya. Ia juga sederhana dalam urusan dunia sehingga hal inilah yang membedakannya dengan sahabat nabi lainnya.
            Dari cuplikan narasi di atas, mempunyai sifat kesederhanaan sangatlah baik jika ditanamkan pada serang muslim sejak dini. Karena hal ini bisa menjadikan seseorang tidak gila harta dan ingin menguasai segalanya. Hal ini bisa menjadikan seorang muslim lebih tenang dengan kesederhanaan. Sederhana sangat cocok jika diterapkan dalam kehidupan saat ini. Supaya seorang muslim tidak bermewah-mewah dan cenderung lebih bisa merasakan keaadan orang lain yang berada di bawahnya.
            Bila semua orang yang hidup di akhir zaman ini tidak memiliki sifat-sifat terpuji seperti yang dimiliki oleh Khabbab, lantas bagaimana seorang muslim bisa melaksanakan perintah-perintah Allah dengan baik ? bagaimana seorang muslim bisa terjamin masuk surga jika amalan-amalan kecil tidak dimiliki dan dilakukan ? padahal amalan kecil sering diabaikan oleh muslim di zaman ini. Hal ini menjadi renungan untuk kita semua sebagai seorang muslim. Berlomba-lombalah dalam kebaikan :)









KULIAH DARING, JANGAN BIKIN GARING Alfiana Zahwa Nur Rokhmat Kota Solo ditetapkan statusnya menjadi KLB (Kondisi Luar Biasa) akiba...