Nama : Alfiana Zahwa Nur Rokhmat
NIM :
175221009
Kelas : Akuntansi Syariah 2A
Mata Kuliah : Ulumul Qur’an dan Hadist
|
Aku, Al-Qur’an,
dan Hadist
Tidak
bisa dipungkiri bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat muslim di seluruh
dunia. Pedoman di sini diartikan sebagai petunjuk bagi seluruh muslim. Karena
dalam kehidupan kita sehari-hari semuanya telah diatur dan tertuang dalam kitab
Al-Quranul karim. Meskipun begitu terkadang kita tidak menyadari betapa
Al-Qur’an telah mengatur semua kehidupan kita. Al-Qur’an sangat dimuliakan akan
semua kebenarannya yang telah terbukti.
Al-Qur’an
memiliki arti dalam cakupan luas, sehingga tidak bisa bila didefinisikan pada
batasan tertentu. Sejalan dengan apa itu Al-Qur’an, terdapat hadist atau sunnah
yang juga dipakai dalam landasan-landasan syariat. Hadist merupakan perkataan
nabi yang elah diriwayatkan oleh perawi, yang dalam periwayatannya tersebut
ditelusuri secara detail perkataan nabi tersebut. Sehingga dalam hadist-hadist
yang telah diriwayatkan oleh para perawi juga terdapat tingkatan-tingkatan
kelemahan maupun kebenarannya.
Aku...
Keluargaku
bukanlah dari kalangan keluarga yang mengerti tentang agama dan Al-Qur’an
apalagi hadist, keluargakuu sama sekali tidak tau. Maka dari itu ibuku menyuruhku
untuk mengaji sewaktu aku duduk di bangku kelas 2 SD. Aku dipaksa ibuku untuk
mengaji. Awalnya aku sangat malu bila bertemu orang banyak apalagi mengaji
dengan orang banyak. Tapi karena paksaan-paksaanyang dilontarkan oleh ibuku aku
semakin terbiasa mengaji dan mengetahui apa itu Al-Qur’an. Meskipun dulunya aku
baru mempelajari IQRO’ dan Juz ama. Aku mengaji di TPA sampai aku duduk di
bangku SMK. Berbagai pelajaran yang bisa kuambil sewaktu aku mengaji salah
satunya mengenai bacaan Al-Qur’an dan syiir-syiir jawa lainnya.
Aku
memulai mengaji dari bacaan Al-Qur’an dengan diikuti tajwid. Tajwid penting
agar bacaan yang kubaca bisa enak didengar, begitulah kata guruku mengaji.
Guruku selalu memberikan berbagai nasihat sewaktu aku masih mengaji dengannya.
Ia juga menjelaskan bahwa mengaji itu bisa mengasah otak melalui
hafalan-hafalan surat pendek di juz 30, menghafal syiir-syiir, menghafal
tajwid, dan yang lainnya. Ia juga tak segan-segan menghukum muridnya yang tidak
hafal dengan membaca al fatihah sebanyak 100 kali. Hal tersebut ia lakukan agar
muridnya bisa belajar dan tidak malas menghafal. Begitulah kisahku waktu
mengaji dari SD sampai SMK. Banyak hal yang aku dapat mulai dari aku bisa
mengerti bacaan sholat yang benar, berdzikir yang benar, dan tak lupa guruku
selalu mengajarkanku untuk berbakti kepada orang tua.
Setelah
aku lulus SMK aku melanjutkan studi di IAIN Surakarta. Iya ini merupakan
sekolah Islam yang notabene nya aku dulu sekolah di sekolah negeri biasa tanpa
embel-embel Islam. Ini membuatkau sedikit minder dan takut tidak bisa mengikuti
karena aku pun juga tidak perna mondok di pesantren. Namun pemikiranku itu bisa
ku sirnakan dan aku mulai percaya diri bahwa aku bisa. Jika tidak begitu maka
aku akan terbelenggu dengan keminderan yang semakin membuatku down. Di IAIN
Surakarta ini aku bisa memperoleh pembelajaran lewat dosen-dosen yang mempunyai
latar belakang pendidikan di pesantren. Salah satu dosen yang paling kusukai
dan menginspirasi diriku adalah dosen bahasa arab, Bapak Sholihin. Ia merupakan
dosen yang sangat kusukai dengan ketenangannya dalam menghadapi apapun.
Kisahnya sewaktu di pesantren dan kuliah di luar negeri pun menginspirasi. Iya
menginspirasiku untuk tidak usah berorientasi pada nilai. Meskipun diriku
selalu berorientasi pada nilai, sedikit demi sedikit sekarang kucoba untuk
berorientasi pada pengetahuan supaya ilmu ku yang kudapat sewaktu di bangku
kuliah bermanfaat nantinya.
Beralih
dari ceritaku selama mengaji dan kuliah. Sekarang aku akan menceritakan sedikit
pengetahuanku mengenai Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan obat hati. Hal itu yang
sering terdengar dalam telinga kita. Mengapa demikian, karena para pembaca
Al-Qur’an yang telah memahami isi dan mengamalkannya mersakan
keutamaan-keutamaan membaca Al-Qur’an.
Aku
pun demikian, aku selalu merasa tenang sewaktu membaca Al-Qur’an. Aku merasa
Al-Qur’an mempunyai daya tarik tersendiri untukku. Selalu aku sehabis sholat
membaca Al-Qur’an meskipn hanya satu ruku’, karena dengan membaca Al-Qur’an
hatiku tenang. Apalagi dengan keutamaan-keutamaan yang telah diriwayatkan dalam
hadist-hadist, hal itu semakin membuatku ingin selalu membaca Al-Qur’an. Aku
tidak menuntut apabila membaca Al-Qur’an akan masuk surga, aku hanya merasa
dengan membaca Al-Qur’an aku mampu mengontrol diriku, terlebih jika memahami
arti dalam setiap ayat Al-Qur’an. Terkadang diri ini ingin menangis ketika HP
sering kupegang tapi Al-Qur’an hanya sebentar kupegang. Sungguh itu membuatku
merasa malu dihadapan Allah.
Menurutku
membaca Al-Qur’an itu bisa mengasah otak kita karena dalam satu ayat Al-Qur’an
terdapat berbagai bacaan tajwid yang tentunya kita juga harus memahaminya.
Membaca Al-Qur’an itu tidak seperti membaca buku mata kuliah yang bila semakin
jauh membaca maka akan semakin bosan.
Dalam
kitab yang diwahyukan kepada nai Muhammad SAW ini terdapat beberapa surat yang
kusukai, salah satunya adalah surat Al Kahfi.terdapat berbagai keutaman membaca
surat ini di hari jumat. Dan surat ini merupakan bacaan wajib di hari jumat
setelah membaca surat Yaasin. Keutamaan membaca surat Al Kahfi di hari jumat
juga telah tertuang dalam hadist sebagai berikut.
Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, bahwa nabi shalallahu
alaihi wasallam bersabda: “barangsiap yang membaca Al Kahfi pada hari jumat,
maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua jumat”
Hadist
di atas membuatku rajin membaca surat ini pada hari jumat. Selain membaca surat
ini aku pun juga membaca surat lainnya.
Beranjak
dari hadist, aku akan menceritakan ketakjubanku pada ciptaan Allah yang
kebenarannya itu ternyata telah tertuang dalam Al-Qur’an juga. Seperti halnya
dalam QS. Al Fathir ayat 27 yang berbunyi :
“Tidaklah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan
hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang
beranekaragan jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih
dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”
(Al-Fathir ayat 27)
Dalam
ayat diatas, fenomena yang dijelaskan tersebut 14 abad yang lalu. Bahkan
sebelum para sahabat dan Rasulullah datang dan berdakwah ke China. Fenomena
tersebut merupakan fenomena Danaxia Lanform. Fenomena ini ditemukan di sebelah
tenggara dan barat daya China, terdiri dari tebing-tebing lengkung warna-warni
tepatnya berada di kota Zhangye, di provinsi Gansu, China. Selain fenomena
gunug pelangi tersebut, masih terdapat fenomena-fenomena lainnya yang dalam
Al-Qur’an telah dibuktikan antara lain fenomena sungai di bawah laut dan
sebagainya. Akibat dari fenomena tersebut yang telah dibuktikan oleh Al-Qur’an,
terdapat banyak ilmuan yang meneliti tentang fenomena tersebut memeluk Islam
dan menjalankan amalan yang ada dalam Al-Qur’an.Hal inilah yang menjadi
petunjuk bahwa di seluruh dunia ini telah diatur dan tertuang dalam Al-Qur’anul
karim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar