Kamis, 26 April 2018

CERPEN AKU



Nama              : Alfiana Zahwa Nur Rokhmat
NIM                : 175221009
Kelas               : Akuntansi Syariah 2A
Mata Kuliah : Ulumul Qur’an dan Hadist
 
  



Aku, Al-Qur’an, dan Hadist

            Tidak bisa dipungkiri bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat muslim di seluruh dunia. Pedoman di sini diartikan sebagai petunjuk bagi seluruh muslim. Karena dalam kehidupan kita sehari-hari semuanya telah diatur dan tertuang dalam kitab Al-Quranul karim. Meskipun begitu terkadang kita tidak menyadari betapa Al-Qur’an telah mengatur semua kehidupan kita. Al-Qur’an sangat dimuliakan akan semua kebenarannya yang telah terbukti.
            Al-Qur’an memiliki arti dalam cakupan luas, sehingga tidak bisa bila didefinisikan pada batasan tertentu. Sejalan dengan apa itu Al-Qur’an, terdapat hadist atau sunnah yang juga dipakai dalam landasan-landasan syariat. Hadist merupakan perkataan nabi yang elah diriwayatkan oleh perawi, yang dalam periwayatannya tersebut ditelusuri secara detail perkataan nabi tersebut. Sehingga dalam hadist-hadist yang telah diriwayatkan oleh para perawi juga terdapat tingkatan-tingkatan kelemahan maupun kebenarannya.
            Aku...
            Keluargaku bukanlah dari kalangan keluarga yang mengerti tentang agama dan Al-Qur’an apalagi hadist, keluargakuu sama sekali tidak tau. Maka dari itu ibuku menyuruhku untuk mengaji sewaktu aku duduk di bangku kelas 2 SD. Aku dipaksa ibuku untuk mengaji. Awalnya aku sangat malu bila bertemu orang banyak apalagi mengaji dengan orang banyak. Tapi karena paksaan-paksaanyang dilontarkan oleh ibuku aku semakin terbiasa mengaji dan mengetahui apa itu Al-Qur’an. Meskipun dulunya aku baru mempelajari IQRO’ dan Juz ama. Aku mengaji di TPA sampai aku duduk di bangku SMK. Berbagai pelajaran yang bisa kuambil sewaktu aku mengaji salah satunya mengenai bacaan Al-Qur’an dan syiir-syiir jawa lainnya.
            Aku memulai mengaji dari bacaan Al-Qur’an dengan diikuti tajwid. Tajwid penting agar bacaan yang kubaca bisa enak didengar, begitulah kata guruku mengaji. Guruku selalu memberikan berbagai nasihat sewaktu aku masih mengaji dengannya. Ia juga menjelaskan bahwa mengaji itu bisa mengasah otak melalui hafalan-hafalan surat pendek di juz 30, menghafal syiir-syiir, menghafal tajwid, dan yang lainnya. Ia juga tak segan-segan menghukum muridnya yang tidak hafal dengan membaca al fatihah sebanyak 100 kali. Hal tersebut ia lakukan agar muridnya bisa belajar dan tidak malas menghafal. Begitulah kisahku waktu mengaji dari SD sampai SMK. Banyak hal yang aku dapat mulai dari aku bisa mengerti bacaan sholat yang benar, berdzikir yang benar, dan tak lupa guruku selalu mengajarkanku untuk berbakti kepada orang tua.
            Setelah aku lulus SMK aku melanjutkan studi di IAIN Surakarta. Iya ini merupakan sekolah Islam yang notabene nya aku dulu sekolah di sekolah negeri biasa tanpa embel-embel Islam. Ini membuatkau sedikit minder dan takut tidak bisa mengikuti karena aku pun juga tidak perna mondok di pesantren. Namun pemikiranku itu bisa ku sirnakan dan aku mulai percaya diri bahwa aku bisa. Jika tidak begitu maka aku akan terbelenggu dengan keminderan yang semakin membuatku down. Di IAIN Surakarta ini aku bisa memperoleh pembelajaran lewat dosen-dosen yang mempunyai latar belakang pendidikan di pesantren. Salah satu dosen yang paling kusukai dan menginspirasi diriku adalah dosen bahasa arab, Bapak Sholihin. Ia merupakan dosen yang sangat kusukai dengan ketenangannya dalam menghadapi apapun. Kisahnya sewaktu di pesantren dan kuliah di luar negeri pun menginspirasi. Iya menginspirasiku untuk tidak usah berorientasi pada nilai. Meskipun diriku selalu berorientasi pada nilai, sedikit demi sedikit sekarang kucoba untuk berorientasi pada pengetahuan supaya ilmu ku yang kudapat sewaktu di bangku kuliah bermanfaat nantinya.
            Beralih dari ceritaku selama mengaji dan kuliah. Sekarang aku akan menceritakan sedikit pengetahuanku mengenai Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan obat hati. Hal itu yang sering terdengar dalam telinga kita. Mengapa demikian, karena para pembaca Al-Qur’an yang telah memahami isi dan mengamalkannya mersakan keutamaan-keutamaan membaca Al-Qur’an.
            Aku pun demikian, aku selalu merasa tenang sewaktu membaca Al-Qur’an. Aku merasa Al-Qur’an mempunyai daya tarik tersendiri untukku. Selalu aku sehabis sholat membaca Al-Qur’an meskipn hanya satu ruku’, karena dengan membaca Al-Qur’an hatiku tenang. Apalagi dengan keutamaan-keutamaan yang telah diriwayatkan dalam hadist-hadist, hal itu semakin membuatku ingin selalu membaca Al-Qur’an. Aku tidak menuntut apabila membaca Al-Qur’an akan masuk surga, aku hanya merasa dengan membaca Al-Qur’an aku mampu mengontrol diriku, terlebih jika memahami arti dalam setiap ayat Al-Qur’an. Terkadang diri ini ingin menangis ketika HP sering kupegang tapi Al-Qur’an hanya sebentar kupegang. Sungguh itu membuatku merasa malu dihadapan Allah.
            Menurutku membaca Al-Qur’an itu bisa mengasah otak kita karena dalam satu ayat Al-Qur’an terdapat berbagai bacaan tajwid yang tentunya kita juga harus memahaminya. Membaca Al-Qur’an itu tidak seperti membaca buku mata kuliah yang bila semakin jauh membaca maka akan semakin bosan.
            Dalam kitab yang diwahyukan kepada nai Muhammad SAW ini terdapat beberapa surat yang kusukai, salah satunya adalah surat Al Kahfi.terdapat berbagai keutaman membaca surat ini di hari jumat. Dan surat ini merupakan bacaan wajib di hari jumat setelah membaca surat Yaasin. Keutamaan membaca surat Al Kahfi di hari jumat juga telah tertuang dalam hadist sebagai berikut.
Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, bahwa nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “barangsiap yang membaca Al Kahfi pada hari jumat, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua jumat”
            Hadist di atas membuatku rajin membaca surat ini pada hari jumat. Selain membaca surat ini aku pun juga membaca surat lainnya.
            Beranjak dari hadist, aku akan menceritakan ketakjubanku pada ciptaan Allah yang kebenarannya itu ternyata telah tertuang dalam Al-Qur’an juga. Seperti halnya dalam QS. Al Fathir ayat 27 yang berbunyi :
“Tidaklah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beranekaragan jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (Al-Fathir ayat 27)
            Dalam ayat diatas, fenomena yang dijelaskan tersebut 14 abad yang lalu. Bahkan sebelum para sahabat dan Rasulullah datang dan berdakwah ke China. Fenomena tersebut merupakan fenomena Danaxia Lanform. Fenomena ini ditemukan di sebelah tenggara dan barat daya China, terdiri dari tebing-tebing lengkung warna-warni tepatnya berada di kota Zhangye, di provinsi Gansu, China. Selain fenomena gunug pelangi tersebut, masih terdapat fenomena-fenomena lainnya yang dalam Al-Qur’an telah dibuktikan antara lain fenomena sungai di bawah laut dan sebagainya. Akibat dari fenomena tersebut yang telah dibuktikan oleh Al-Qur’an, terdapat banyak ilmuan yang meneliti tentang fenomena tersebut memeluk Islam dan menjalankan amalan yang ada dalam Al-Qur’an.Hal inilah yang menjadi petunjuk bahwa di seluruh dunia ini telah diatur dan tertuang dalam Al-Qur’anul karim.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KULIAH DARING, JANGAN BIKIN GARING Alfiana Zahwa Nur Rokhmat Kota Solo ditetapkan statusnya menjadi KLB (Kondisi Luar Biasa) akiba...