Nama : Alfiana Zahwa Nur Rokhmat
NIM : 175221009
Kelas : Akuntansi Syariah 2A
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Tugas : Esai
|
Identitas Buku
Judul :
“Khabbab bin Arats” Cahaya Islam Menerangi Jiwanya
Penulis :
A.Setiawan
Penerbit :
Titian Ilmu Bandung
Tebal :
84 halaman + viii m
Cetakan :
Edisi revisi tahun 2007
ISBN :
978 - 979 - 1304 - 00 – 9
Khabbab
bin Arats salah satu sahabat nabi yang ahli membuat peralatan perang dan
berburu. Ia hidup di zaman jahiliyah pada saat berhala masih menjadi sembahan
di Mekah. Masa kecil Khabbab bin Arats sangatlah memprihatinkan, ia ditinggal
oleh kedua orang tuanya ketika segerombolan orang meluluh lantahkan desanya dan
terutama rumahnya. Ia lalu menjadi budak hingga dewasa setelah kepergian orang
tuanya. Ia merasakan sifat majikan yang berbeda-beda selama menjadi budak.
Karena Khabbab beberapa kali berpindah tangan dari seorang majikan.
Setelah
melalui masa yang lama menyembah berhala, mulailah Khabbab mengakui kerasulan
Muhammad SAW. Pada awalnya Khabbab seorang yang taat dengan berhala, namun
setelah kedatangan nabi Muhammad, ia mulai berpikir dan berangsur-angsur
meninggalkan sesembahan berhalanya dan berpindah memeluk agam Islam. Ia
meninggalkan segala kepandaiannya membuat pedang. Hal tersebut merupakan bentuk
kecintaan Khabbab terhadap Allah dan Rasulullah. Kaum Quraisy mulai membenci
Khabbab setelah ia masuk dan taat dengan ajaran Islam. Kaum Quraisy yang mendengar kabar bahwa Khabbab memeluk
agama Islam langsung menyiksa habis-habisan Khabbab. Dengan segala penyiksaan
yang telah diterima oleh Khabbab, ia tak pernah menyerah dan kembali ke
ajarannya yang lama. Penyiksaan besar semakin dirasakan oleh Khabbab tapi ia
tetap teguh dengan ajaran Muhammad ini.
Menurut
buku “Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadist-hadist
Shahih” M. Quraish Shihab menuliskan bahwa Khubbab bin al-Arats, seorang yang
disiksa oleh majikan perempuannya yang musyrikah, pernah memohon kepada Nabi
untuk berdoa kepada Allah kiranya Allah akan meringankan cobaannya. Lalu Nabi
Muhammad mengingatkan bahwa siksaan kaum terdalulu tidak kalah pedihnya, namun
mereka tetap mempertahankan keyakinan mereka. Lalu, beliau menanamkan semangat
kepada para sahabat dengan bersabda:
“Pasti Allah akan menyempurnakan agama
ini sampai akhirnya pengendara berpergian dari Shana’a ke Hadramaut dalam
keadaan dia tidak takut kecuali kepada Allah dan serigala, jangan sampai
gembalaannya diterkan olehnya. (itu pasti) tapi kalian ingin bersegera (HR.
Bukhari).”
Majikan
dan algojo-algojo kaum Quraisy yang telah menyiksa habis-habisan Khabab dan
pemeluk Islam lainnya ditimpahi qishah oleh Allah SWT dengan siksaan berupa
diserang penyakit panas dan menyiksa seperti lolongan anjing. Ada yang
mengatakan bahwa obatnya dengan menyetrika ubun-ubunnya dengan setrikaan panas
ditiap pagi dan petang. Ini merupakan suatu balasan dari Allah terhadap apa
yang telah dilakukan majikan Khabbab (Ummu Anmar) kepada Khabbab. Sudah
sepatutnya Allah membalas kekejaman
tersebut. Wallahu ‘alam
Setelah
penyiksaan yang sangat memprihatinkan telah dialami oleh Khabbab, akhirnya ia
dibebaskan dari siksaan dan menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW. Khabbab
menjadi guru besar dengan mengajari para sahabat nabi lainnya mempelajari
Al-Qur’an. Khabbab juga mempelajari adik Umar bin Khattab, Fatimah binti
Khattab dan suaminya Said bin Zaid. Dengan Fatimah membaca Al-Qur’an dan
disaksikan oleh Umar bin Khattab, langsung seketika Umar bin Khattab menemui
Muhmmad dan memeluk Islam. Umar bin Khattab menjadi pelindung kaum muslim di
manapun. Khabbab mempunyai peran besar dalam mengslamkan Umar bin Khattab.
Seusai
Umar menyatakan kekagumannya terhadap Al-Qur’an, Khabbab berkata kepada Umar:
“Demi Allah aku mengharap Allah telah memilihmu untuk mengabulkan doa nabi-Nya.
Kemarin kudengar Nabi. Saw berdoa: ‘ Ya Alah kukuhkanlah Islam dengan keislaman
Abu al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar Ibn al-Khattab’” (HR. Ahmad dan
Tirmidzi).
Khabab
senantiasa menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW. Semasa menjadi pengikut
setia Rasulullah, Khabbab sangat taat dengan ajaran Islam. Pada saat baitul
maal mengalami limpahan harta, Khabbab diberi harta yang cukup banyak, tetapi
Khabbab tidak pernah menyembunyikan harta tersebut. Ia tidak pernah menikmati
hartanya untuk hal-hal yang tidak perlu. Ia juga mengiyakan apabila terdapat
seorang yang membutuhkan untuk diminta. Khabbab berpulang ke Rahmatullah pada
tahun 37 H.
Dari
narasi singkat yang telah saya uraikan di atas tersebut terdapat banyak sekali
hikmah yang bisa diambil. Mulai dari Khabbab kecil hingga dewasa banyak hal
yang bisa diteladani. Keteladanan seorang yang telah yakin dan teguh hatinya
kepada Islam. Keteladanan yang menjadikannya berbeda dari sahabat nabi lainnya.
Buku
yang berjudul “Khabab bin Arats Cahaya Islam Menerangi Jiwanya” ini mempunyai
tampilan tiga orang yang sedang duduk bersila dengan disuguhi sebuah Al-Qur’an.
Tampilan ini bisa diilustrasikan orang yang berpakaian warna cokelat dengan
sorban berwarna merah keputih-putihan adalah Sa’id bin Zaid. Warna cokelat dari
pakaian yang dikenakan tersebut menggambarkan sifat ramah tamah dan ingin
mendalami Al-Qur’an dari Khabbab .
Sorban
warna kemerah-merahan tersebut menandakan bahwa Said mempunyai keberanian
dengan perbuatan yang dilakukan tersebut apabila diketahui oleh kaum Quraisy.
Orang berpakaian warna biru adalah Fatimah binti Khattab. Warna biru
menggambarkan ketenangan yang dimiliki oleh Fatimah binti Khattab. Dan orang
yang berpakaian warna cokelat muda dengan sorban hijau adalah Khabbab bin
Arats. Warna cokelat muda menggambarkan Khabbab seorang yang ramah dan warna
sorban hijau menggambarkan kesejukan. Kesejukan tersebut seperti kesejukan hati
Khabbab ketika mempelajari Al-Qur’an.
Hal
tersebut bisa saya ilustrasikan karena telah tertuang dalam buku ini halaman
61. Dalam tampilan buku ini menggambarkan isi buku di mana Khabbab setelah
memeluk Islam menjadi narasumber dalam pengajaran Al-Qur’an, baik dalam hafalan
maupun dalam hal lainnya.
Islam
merupakan agama yang sangat dijaga oleh Allah SWT. Agama yang diwahyukan kepada
Nabi Muhammad SAW ini mampu menerangi umat muslim dan di zaman jahiliyah. Dalam
menjalankan misinya ini Nabi Muhammad memperoleh berbagai macam halangan dan
rintangan yang harus dilaluinya. Semua itu dilakukan oleh nabi dengan ikhlas
dan tak pernah mengeluh. Dengan segala kemampuannya, nabi rela berdakwah demi
Islam.
Dilihat
dari cerita masa kecil kehilangan orang tua yang dialami oleh Khabbab, dalam
hal ini keimanan seorang muslim akan diuji oleh Allah. Kehilangan kedua orang
tua seperti yang dialami oleh khabbab ini akan senantiasa menjadikannya seorang
yang tabah. Orang tua memanglah segalanya tapi jika Allah berkehendak lain maka
apapun bisa terjadi. Seperti hadist yang biasa kita dengar “Ridho Allah
terdapat dalam ridho orang tua”. Maka dari itu, jika kita masih memiliki kedua
orang tua, muliakanlah mereka.
Ketabahan
yang dimiliki oleh seorang muslim haruslah juga seperti dengan Khabbab ini.
Akan lebih baik lagi jika ketabahan kita sebagai orang muslim seperti dengan
sifat Rasulullah SAW. Tabah dalam menghadapi segala cobaan patutlah mulai
dibiasakan bagi muslim.
Salah
satu ayat dalam Al-Qur’an yaitu QS. Al An’am ayat 52 sampai 54 yang telah
dijelaskan dalam narasi di atas, dalam ayat tersebut Allah melalui Al-Qur’anul
karim merangkul dan memuliakan hamba semacam Khabbab, Billal, atau Shuaib.
Dengan demikian Rasulullah menyeru kepada umatnya agar memuliakan fakir miskin.
Bukti dari kemuliaan ayat tersebut, Rasulullah memuliakan Khabbab ketika ia
akan berpulang ke Rahmatullah dengan membentangkan kain untuk mereka duduk dan
dirangkulnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Dari ayat di atas dapat
kita resapi bagaimana Allah mengasihi hambanya yang taat. Sebagai seorang
muslim di zaman ini seharusnya lebih bisa mentaatkan diri kepada Allah karena
semua yang berada dalam diri kita, baik dalam jasmani maupun rohani tanpa Allah
kita tidak akan bisa hidup. Allah akan senantiasa mengasihi hambanya yang taat.
Taat dengan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Khabbab
dewasa menjadi seorang pembuat pedang yang terkenal di Mekah. Dari secuil
kalimat tersebut, di zaman sekarang kita pasti akan bahagia jika terkenal. Akan
tetapi apakah ketenaran akan membuat kita bahagia selamanya ? tentu tidak
bukan. Terkenal tidak akan menjamin bahagia seorang muslim. Justru kekeridhoan
akan ketetapan Allah akan lebih menjadikan seorang hamba selalu bahagia.
Bahagia seseorang pun mempunyai kadarnya sendiri-sendiri.
Dari
cerita Khabbab di atas, ia merasa dirinya bukan apa-apa jika masih menyembah
berhala sehingga ia memilih mengakui kerasulan nabi Muhammad dan memeluk Islam.
Dalam memeluk Islam di zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Zaman dahulu
jika ada yang memeluk Islam makan akan disiksa habis-habisan dan pasti
menderita. Lain halnya dengan zaman sekarang, memeluk Islam tidak akan
diperangi oleh kaum non-muslim.
Kemudahan-kemudahan
yang telah dibawakan oleh Nabi Muhammad dari Allah sekarang ini malah cenderung
diabaikan seorang muslim. Seorang muslim banyak yang memeluk Islam tetapi hanya
sebagai status saja. Banyak dari muslim saat ini yang kurang taat dengan ajaran
Islam, misalkan dalam hal sholat, puasa, zakat dan lain sebagianya. Meskipun
tidak semua muslim di zaman saat ini seperti itu semua tapi hal ini seharunya
menjadikan kesadaran terhadap diri sendiri. Apa kewajiban seorang muslim yang
sesungguhnya harus dijalankan dan ditunaikan.
Seorang
muslim di zaman dulu dengan sekarang terdapat banyak perbedaaan, padahal
ajaran-ajarannya sama. Apakah yang menjadi pembeda ? apakah karena tidak ada
nabi atau bagaimana ? ini yang seharusnya menjadi PR untuk kita semua sebagai
mahasswa dari Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Menyadarkan dii sendiri
sangat baik, akan tetapi mengajak orang lain sadar dengan segala kewajiban
seorang muslim akan lebih baik lagi.
Dari
narasi di atas dalam buku yang berjudul “Biografi 60 Sahabat Nabi” ditulis oleh
Khalid Muhammad Khalid juga mengemukakan bahwa Khabbab merupakan soerang yang
tabah dari segala siksaan yang telah diberikan oleh kaum Quraisy (Khalid, 2013:
242). Dalam kalimat di atas ini dapat kita pahami mendalam bagiamana perbedaan
antara proses memeluk Islam di zaman Rasulullah dengan zaman sekarang ini.
Banyak siksaan yang dialami oleh orang yang baru masuk Islam di zaman
Rasulullah.
Siksaan
yang diterima oleh kaum muslim di zaman Rasulullah tersebut tidak menggoyahkan
keimanan seorang muslim. Dalam hal siksaan keimanan seorang muslim akan diuji
oleh Allah. Sama halnya dengan sekarang ini, keimanan seorang muslim akan diuji
dengan berbagai ujian. Ujian sekarang ini bukan lagi soal ujian dengan siksaan,
tetapi ujian saat ini lebih cenderung ke sekulerisme. Lebih mementingkan
keduniawian daripada akhirat. Sehingga banyak orang yang ngakunya Islam akan
melakukan hak yang dilarang, mislanya dengan membuka aurat dan lain sebagainya.
Majikan
dan algojo-algojo kaum Quraisy yang telah menyiksa habis-habisan Khabab dan
pemeluk Islam lainnya ditimpahi qishah oleh Allah SWT dengan siksaan yang
pedih. Penyiksaan berupa qhisas yang diperoleh majikan dan algojo ini merupakan
tanda kekuasaan Allah. Allah melaknat semua orang yang ingin memerangi
agamanya. Allah akan senanriasa menjaga hambanya yang teguh dalam agama Islam
seperti Khabbab dengan melaknat majikannya yang kejam.
Khabbab
menjadi guru besar dengan mengajari para sahabat nabi lainnya mempelajari
Al-Qur’an. Khabbab juga mempelajari adik Umar bin Khattab, Fatimah binti
Khattab dan suaminya Said bin Zaid. Dengan Fatimah membaca Al-Qur’an dan
disaksikan oleh Umar bin Khattab, langsung seketika Umar bin Khattab menemui
Muhmmad dan memeluk Islam.
Dari
narasi singkat tentang kepandaian Khabbab dalam mengajari Al-Qur’an tersebut,
baik bila dicontoh oleh seorang muslim saat ini. Seorang muslim bisa
menyalurkan ilmu pengetahuan tentang Al-Qur’an kepada muslim lain yang belum
terlalu bisa sehingga ini akan menjadikan amal jariyah di akhirat nanti. Hal
ini kita sebagai mahasiswa perguruan tinggi Islam bisa memulai dengan mengajar
di TPA/TPQ di sekitar kampus maupun di lingkungan rumah. Mengajari membaca
Al-Qur’an ini bisa membuktikan bahwa sebagai seorang mahasiswa perguruan tinggi
Islam sangat meneladani perilaku yang dimiliki oleh Khabbab bin Arats lewat
pembelajaran Al-Qur’an.
Banyak orang muslim di akhir zaman
ini yang lebih memilih menjadi individu yang bermewah-mewah dalam hal apapun.
Kerja hanya dijadikan untuk memenuhi gaya hidup, padahal di samping itu masih
terdapat hal yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Memprihatinkan jika seorang
muslim tidakmenerapkan sifat yang dimiliki oleh Khabbab bin Arats ini. Sifat
yang dimiliki oleh Khabbab bin Arats ini patutlah dicontoh oleh semua muslim.
Sifat ketegaran, kesabaran, ketabahan, kesederhanaan, dan masih banyak lagi
sifat Khabbab yang patut dicontoh.
Khabbab
mempunyai peran dalam pengislaman Khalifah Umar Ibn Khattab. Dalam proses
pengislaman Umar ini juga terdapat Fatimah binti Khattab dan suaminya Sa’id.
Fatimah dan Sa’id merupakan sepasang suami istri yang sedang belajar Al-Qur’an
dengan Khabbab. Pertikaian antara Fatimah dengan Umar pada saat itu sangatlah
sengit. Umar menyiksa Fatimah dan Sa’id hingga berlumuran darah demi mempertahankan
keyakinannya terhadap Allah. Kemudian Umar iba dengan adiknya lalu ia memeluk
Islam.
Dilihat
dari sisi kesetiaan sepasang suami istri antara Sa’id dengan Fatimah sangatlah
seorang muslim yang taat, mereka rela disiksa demi mempertahankan keyakinannya
kepada Allah dan Rasulnya. Mereka rela melindungi satu sama lain. Dalam
hubungan rumah tangga saling melengkapi dan melindungi merupakan hal yang harus
dilakukan atau bahkan menjadi suatu kewajiban.
Dilihat
dari sisi Umar, Seorang yang hatinya
keras pun akhirnya kan luluh dengan
kemuliaan-kemuliaan yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Dalam
kehidupan saat ini banyak orang yangmempunyai hati keras sekeras batu namun ia
juga bisa dilunakkan secara perlahan.
Jadi dalam kehidupan yang sekarang ini mungkin sekali orang yang hatinya keras
menjadii seorang yang rendah hati dan lunak hatinya.
Islam
agama yang sangat memuliakan seorang muslim yang baru memeluk Islam. Sehingga
hal ini bisa mendorong orang non muslim lain untuk memeluk Islam dan menjadi
bagian dari agama Islam. Seorang yang telah menjadi muslim akan mempunyai
banyak perubahan sehingga menjadi insan yang lebih baik.
Khabbab
merupakan orang yang sangat dermawan dengan segala harta yang dimilikinya. Ia
akan memberikan hartanya kepada siapa saja yang membutuhkannnya. Ia juga
sederhana dalam urusan dunia sehingga hal inilah yang membedakannya dengan
sahabat nabi lainnya.
Dari
cuplikan narasi di atas, mempunyai sifat kesederhanaan sangatlah baik jika
ditanamkan pada serang muslim sejak dini. Karena hal ini bisa menjadikan
seseorang tidak gila harta dan ingin menguasai segalanya. Hal ini bisa
menjadikan seorang muslim lebih tenang dengan kesederhanaan. Sederhana sangat
cocok jika diterapkan dalam kehidupan saat ini. Supaya seorang muslim tidak bermewah-mewah
dan cenderung lebih bisa merasakan keaadan orang lain yang berada di bawahnya.
Bila semua orang yang hidup di akhir
zaman ini tidak memiliki sifat-sifat terpuji seperti yang dimiliki oleh
Khabbab, lantas bagaimana seorang muslim bisa melaksanakan perintah-perintah
Allah dengan baik ? bagaimana seorang muslim bisa terjamin masuk surga jika
amalan-amalan kecil tidak dimiliki dan dilakukan ? padahal amalan kecil sering
diabaikan oleh muslim di zaman ini. Hal ini menjadi renungan untuk kita semua
sebagai seorang muslim. Berlomba-lombalah dalam kebaikan :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar