Kitab Klasik Sebagai Rujukan Pondok
Pesantren
(Studi pada Pondok Pesantren
Al-Munawwir Ndlajo, Klaten)
Alfiana
Zahwa Nur Rokhmat
175221009/AKS
3A
“Santri
itu orang-orang yang terpilih, banyak orang yang menginginkan menjadi santri
namun mempunyai keterbatasan larangan dari orang tua dan banyak yang orang tua
mengizinkan untuk mendidik anaknya di pesantren tapi anak tidak mau di
pesantren”
(
Abuya Muhammad Chafidz Tanwir dan Ibu Udit Iriyani)
Pondok pesantren merupakan wadah
berbagai informasi dan ilmu dalam keagamaan, terutama dalam agama Islam. Tidak
sedikit pondok pesantren yang didirikan untuk mencetak santri yang berwawasan
ilmu pengetahuan Islam serta untuk meneruskan generasi para Ulama. Selain
sebagai wadah menuntut ilmu di bidang keagamaan, persantren juga sangat
berperan aktif dalam kegiatan yang diadakan suatu desa tempat pesantren
berdiri.
Pesantren sendiri tumbuh dan
berkembang di masyarakat pedesaan melalui proses yang unik dan berbeda.
Pesantren dipengaruhi dan mempengaruhi kehidupan masyarakat pedesaan, pesantren
juga berkembang cepat di berbagai daerah baik kabupaten maupun provinsi
sehingga tidak jarang suatu pesantren mempunyai santri relatif besar,
pengaruhnya melintasi kabupaten dimana pesantren berada (Zuhri, 1979: 185)
Menjadi seorang santri tidaklah
hanya berkutat pada ilmu keagamaan semata, namun juga harus bisa berbaur dengan
masyarakat sekitar pondok pesantren tempat menuntut ilmu. Seorang santri akan
lebih mengetahui hakekatnya ketika telah mematuhi apa yang telah didapatkan saat
menjadi santri. Seperti kalimat yang dikatakan oleh pengasuh pondok pesantren
Al-Munawwir Ndlajo Klaten, beliau mengakatan bahwa seorang santri itu seperti
ayam petarung. Maksud dari ayam petarung disini adalah dididik untuk tidak
bersikap sombong setelah keluar dari pondok pesantren dan lebih bersikap
merendah dengan segala kemampuan yang telah dimiliki.
Dalam pondok pesantren NU yang telah
saya observasi, terdapat banyak kajian-kajian yang dilakukan oleh pondok
pesantren dalam mengembangkan adat pesantren. Karena pengasuh pondok pesantren
berasalh dari pondok tahfidz dan salaf Lirboyo, maka pengasuh ponpes
menggabungkan kedua pembelajaran yang diperoleh sebagai metode pembelajaran
dalam pondok pesantren.
Program
Pendidikan di Pesantren Al Munawwir, Ndlajo,
Klaten
Syarat
menjadi santri pada Pondok Pesantren Al-Munawwir adalah mengikuti placement
test untuk mengetahui sejauhmana pengetahuan calon santri dalam bidang bahasa,
maupun pengetahuan tentang kitab kuning
maupun tentang kitab-kitab yang diajarkan di pondok pesantren. Jika belum
memenuhi persyaratan pada jenjang pertama maka santri akan ditempatkan pada
kelas persiapan yang disebut halqoh i’dadiyah.
Jenjang
pendidikan yang ditempuh di Pondok Pesantren Al-Munawwir atau sering disebut
sebagai Madrasah Diniyyah antara lain :
1. Kelas
i’dadiyah ( kelas paling dasar yang memabahas kitab kitab dasar)
Kitab yang
digunakan dalam madrasah diniyyah kelas i’dadiyah adalah Alala Tanalul Ngilma, Pasolatan, Ngudi Susilo, Bahasa Arab, dan
Akhlaqul Banin.
2. Kelas ibtidaiyah 1
Kitab yang
digunakan dalam kelas ibtida’iyah 1 adalah
Hidayatussibyan, Aqidatul Awam,
Akhlaqul Banin, Maba’di Fiqhiyyah, dan sholawat Al-Baqrzanji.
3. Kelas
ibtidaiyah 2,
Kitab yang
digunakan dalam kelas ibtidaiyyah 2 adalah Maba’di
Fiqhiyyah 2, Akhlaqul Banin, Tanwirul Qori, dan hafalan Al-Quran tiap subuh
disetorkan ke Abuya dan Al Fathu (tata cara membaca kitab gundul nahwu).
4. Kelas ibtidaiyah 3
Kitab yang
digunakan dalam kelas ibtidaiyyah 2 adalah Maba’di
Fiqhiyyah 2, Akhlaqul Banin, Tanwirul Qori, dan hafalan Al-Quran tiap subuh
disetorkan ke Abuya. Kelas ibtida’iyah 3 juga mempelajari kitab Al amtsilati
attasrifiyyah (shorof) dan Al qowaidul awal (shorof).
Dalam
pondok pesantren al munawwir ndlajo klaten lebih berfokus pada pengajaran ilmu-ilmu
Al-Quran dan
Fiqih karena pondok pesantren berfokus pada Tahfidzul Qur’an.
dalam hal ini kurang terlalu membahas tentang kitab-kitab kuning, membahas pun
hanya sedikit seputar nahwu dan shorof dasar
Strategi pembelajaran yang
digunakan dalam pondok pesantren tahfidzul qur’an ini antara lain :
1. Kitab
sebagai pelengkap (fokus pada ilmu al qur’an).
2. Setiap
guru memiliki strategi pembelajaran yang berbeda-beda sesuai dengan basic yag
dimiliki seorang guru ngaji.
3. Metode
pembelajaran salah satu guru yaitu Pak Salam (lurah pondok) lebih cenderung
kepada membuat santri senang dengan pembelajaran, soal pemahaman itu tidak
dipermasalahkan.
4. Santri
harus banyak prihatin (melakukan puasa, amalan amalan, sholawat nariyah dll).
5. Pembelajaran
kitab kuning (sorogan=ngaji kitab lalu dibenarkan oleh guru dan bandongan=
memaknai kitab secara bersama sama).
6. Kebiasaan
santri sebelum menuntut ilmu adalah mereview ulang bab yang dipelajari
terdahulu, supaya tidak kehilangan pokok bahasan terdahulu sebelum memasuki bab
baru.
7. Dalam
pondok banyak sekali mengajarkan kepada santri mengenai adab menuntut ilmu dan
adab kepada guru serta orang tua.
8. Dalam
menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ndlajo ini diawali dengan
menghafal 7 surat penting (Al-Mulk, Ar-Rahman, Al-Waqiah, Ad-Dhukhan, As
Sajdah, Yaasin, dan Al-Kahfi) kemudian baru dilanjutkan menginjak juz 1 dst.
Kitab Kuning
Rujukan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ndlajo, Klaten
Dikarenakan
pondok pesantren berdiri belum lama maka kategori pembelajaran yang diterapkan
masih sedikit belum sebanyak pembelajaran pada pondok pesantren yang telah
lama. Pokok pembelajarannya antara lain :
a. Fiqih
·
Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 1
·
Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 2
·
Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 3
·
Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 4
b. Akhlaq
·
Alala tanalul ngilma
·
Akhlaqul Banin
c. Tauhid
·
Aqidatul Awam
d. Tajwid
·
Tanhilul Qorib
·
Tanwilul Qori’
·
Hidayatussibyan
e. Nahwu
·
Al Fathu (tata cara membaca kitab gundul)
·
Jurumiyah
f. Shorof
·
Al amtsilati attasrifiyyah (shorof)
·
Al qowaidul awal (shorof)
Penjelasan kitab-kitab yang
digunakan :
a. Al amtsilati attasrifiyyah
(shorof). Kitab ini digunakan sebagai kitab
kuning rujukan yang membahas mengenai gramatika bahasa arab, tashrif, atau
biasa disebur dengan bapaknya ilmu nahwu (Jurumiyah).
b. Al qowaidul awal (shorof).
Dalam pemahasan ini juga sekitab dengan al-amtsilati attasrifiyyah membahas
mengenai gramatika bahasa arab.
c. Bahasa arab yang disusun oleh
Zubardi Hasballah. Dalam kitab bahasa arab ini hanya
membahas kosa kata dalam bahasa arab pegon yang sifatnya mudah diterima oleh
anak-anak kecil sehingga kitab ini diajarkan pada kelas i’dadiyyah.
d. Ngudi susilo
disusun oleh Kyai Bushro Mustofa Rembang. Kitab ini membahas mengenai
pendidikan akhlak seorang santri yang bisa menjadi pembeda diantara orang yang bukan santri (bisa berupa cara
bersalaman anatara santri dengan Kyai, adab tata krama dll)
e. Allal tanalul ngilma.
Kitab ini
membahas tentang akhlaq santri, bagaimana akhlaq menuntut ilmu, bagaimana
akhlaq murid kepada guru, dll. Kitab nadhoman Alala ini sangat lumrah diajarkan
di semua pesantren di jawa, karena ktab ini berisi tentang motivasi dalam
menuntut ilmu.m
f. Pasolatan.
Kitab Pasolatan ini membahas berbagai hal mengenai sholat, baik dimulai dari
thoharoh hingga tata cara sholat dan sunnah-sunnah sholat hingga amalan dalam
sholat.
g. Hidayatus sibyan
oleh Syech Imam Ahmad Mutahara bin Abdu
Rohman. Kitab ini berisi tentang opembahasan tajwid dalam Al-Qur’an
h. Maba’di fiqihiyyah
oleh Amar Abdul Jabbar Juz 1
i.
Maba’di
fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 2
j.
Akhlakul
Banin disusun oleh Umar bin Ahmad Barroja’. Kitab ini
membahas tentang bagaimana akhlaq nabi dalam kesehariannya. Setelah saya
mengikuti pembelajaran akhlaqul banin ini di malam terakhir live in atau malam
minngu, Abuya menjelaskan kajian dalam kitab ini mengenai akhlaq seorang anak
kepada ibunya dan orang tuanya.
k. Tanwirul Qori’ disusun oleh
K.H Muhammad Mundzir Nadzir
Rutinan Sebagai Penghormatan
Kepada Nabi di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ndlajo, Klaten
Di
pondok pesantren Al Munawwir Ndlajo, selain menerapkan mengaji melalui madrasah
diniyyah, pesantren ini juga terdapat rutinan yang berkaitan langsung dengan
masyarakat desa sekitar pondok pesantren. Hal ini dilakukan karena pada
dasarnya pendirian pesantren ini merupakn sebuah kerangka dakwah dengan cara
membaur dan mengenalkan masyarakt sekitar kegiatan yang biasa dilakukan di
pondok pesantren umumnya.
Kegiatan
yang rutin dengan masyarakat sekitar yaitu sholawatan Al Barzanji dan Simtudduror.
Dalam pelaksanaan sholawat Al Barzanji atau biasa disebut dengan diba’an. Kitab Al
barzanji yang digunakan ditulis oleh Syech al barzanji. Rutinan Al Barzanji
biasanya dilakukan oleh santri putri beserta Ibu Nyai Udit Iriyani
sebagai pemimpin sholawatan. Santri putri biasanya sebagai backsoud dan
memainkan alat rebana/terbangan.
Dalam rutinan ini dilakukan setiap minggu dimana malam jumat minggu pertama di
Pondok pesantren dilanjutkan malam jumat
minggu kedua di rumah warga begitu seterusnya. Biasanya dalam rutinan ini
diikuti oleh ibuk-ibuk di sekitaran pondok pesantren. Terdapat sekitaran 50
orang yang mengikuti rutinan diba’an ini.
Sementara
itu, jika santri putri sedang melaksanakan rutinan al barzanji di rumah warga,
santri putra juga melaksanakan rutinan di masjid pondok pesantren dengan
sholawatan simtudduror. Biasanya kegiatan santri putra ini dipimpin oleh ketua
pondok pesantren al munawwir ndlajo atau bisa yang lainnya. Jadi setiap minggu
selalu ada rutinan sholawatan di pondok pesantren al munawwir ndlajo, baik
putra maupun putri, baik di masjid pondok maumpun dirumah warga setempat.
Selain
mengaji rutinan sholawat Al-Barzanji, pondok pesantren Al-Munawwir Ndlajo ini
juga mengadakan rutinan tiap malam senin membaca kitab Ratib Al-Haddad secara
bersama-sama sehabis sholat Isya’. Mengapa dipilih waktu sehabis sholat Isya’?
dikarenakan di waktu sehabis sholat maghrib digunakan santri untuk melakukan
hafalan ayat-ayat Al-Qur’an maupun meriview hafalan yang telah dihafalkan
kepada Abuya sebagai pengasuh pondok pesantren.
Pondok
pesantren ini juga telah menerbitkan buku berisi kumpulan dzikir dan doa dengan
judul At-Tanwiriyyah. Buku tersebut ditulis langsung oleh pengasuh pondok
pesantren Al-Munawwir Abuya Muhammad Chafidz Tanwir. Dalam buku tersebut berisi juga bacaan ratib
dan banyak doa-doa harian. Pada pengamatan saya sewaktu live-in di pondok
pesantren Al-Munawwir Ndlajo ini, hampir setiap santri memiliki buku kumpulan
dzikir dan doa tersebut. Selain para santri memiliki buku namun juga
mengamalkan bukunya dengan dibaca setiap saat.
Pada
saat yang bersamaa dengan live ini di pondok pesantren bertepatan dengan Hari
Santri yang terdapat anjuran “satu miliyyar sholawat nariyah disetiap masjid,
pondok pesantren dll”, sehingga semua santri melakukan amalan sholawat Nariyah
sehari 106 kali tiap santri. Hal tersebut dilakukan karena kehendak pengasuh
pondok pesantren agar selalu diberi kedamaian dalam hal apapun. Amalan tersebut
juga dilakukan hingga pembangunan pondok pesantren yang baru selesai dikerjakan
(karena pada saat yang sama juga dilakukan pembangunan gedung baru untuk santri
putri).
Kesimpulan
dari berbagai penjelasan yang telah saya jelaskan diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa pondok pesantren ini berfokus pada ilmu Al-Qur’an dan Fiqih.
Pondok ini merupakan pondok dengan basic aliran NU, hal ini bisa dilihat dari
berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Pondok ini juga telah menerapkan
berbagai kitab-kitab dasar dalam pembelajarannya. Kitab-kitab tersebut belum
terlalu mendalami kitab kuning secara menyeluruh dan mendalam karena
keterbatasan pengasuh sendiri yang lebih unggul dalam hal hafalan Al-Qur’an.
Keterangan
:
Nama Pondok Pesantren : PP Al-Munawwir, Ndlajo, Klaten
Tanggal Live in : Jumat-Minggu, 19-21
Oktober 2018
Alamat : Kadilajo RT 02/RW 01, Kadilajo,
Karangnongko, Klaten.
Kelompok Live in : 1. Yusi Aylia Sumarno
2. Alfiana Zahwa Nur Rokhmat
3. Santi Andika
4. Sela Maghribi Nur Hidayah
Sejarah Singkat : Pondok Pesantren
Al-Munawwir, Ndlajo, Klaten ini merupakan cabang dari Pondok Pesantren
Al-Munawwir di Krapyak Jogja. pondok pesantren ini diasuh oleh Abuya Muhammad
Chafidz Tanwir dan Ibu Udit Iriyani. Pondok ini baru berdiri sekitar 10 tahun
an. pondok ini berfokus pada ilmu Al-Quran dan hafalan Al-Quran. Pengasuh pondok
pesantren Abuya Chafidz Tanwir beserta keluarga baru menempati pondok pesantren
sekitar Agustus 2014 dimana sebelumnnya jika mengajar di pondok pesantren
Al-Munawwir Ndlajo ini di laju Jogja-Klaten.
Dalam kurun waktu 10 tahun ini sudah terdapat kurang lebih 50 santri
yang merupakan gabungan antara santri putra dan putri. Pondok pesantren ini juga
mempunyai berbagai kegiatan rutinan seperti pondok pesantren lama pada umumnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar