Selasa, 13 Agustus 2019

ESAI LIFE IN DI PESANTREN



Kitab Klasik Sebagai Rujukan Pondok Pesantren
(Studi pada Pondok Pesantren Al-Munawwir Ndlajo, Klaten)
Alfiana Zahwa Nur Rokhmat
175221009/AKS 3A

“Santri itu orang-orang yang terpilih, banyak orang yang menginginkan menjadi santri namun mempunyai keterbatasan larangan dari orang tua dan banyak yang orang tua mengizinkan untuk mendidik anaknya di pesantren tapi anak tidak mau di pesantren
( Abuya Muhammad Chafidz Tanwir dan Ibu Udit Iriyani)

            Pondok pesantren merupakan wadah berbagai informasi dan ilmu dalam keagamaan, terutama dalam agama Islam. Tidak sedikit pondok pesantren yang didirikan untuk mencetak santri yang berwawasan ilmu pengetahuan Islam serta untuk meneruskan generasi para Ulama. Selain sebagai wadah menuntut ilmu di bidang keagamaan, persantren juga sangat berperan aktif dalam kegiatan yang diadakan suatu desa tempat pesantren berdiri.
            Pesantren sendiri tumbuh dan berkembang di masyarakat pedesaan melalui proses yang unik dan berbeda. Pesantren dipengaruhi dan mempengaruhi kehidupan masyarakat pedesaan, pesantren juga berkembang cepat di berbagai daerah baik kabupaten maupun provinsi sehingga tidak jarang suatu pesantren mempunyai santri relatif besar, pengaruhnya melintasi kabupaten dimana pesantren berada (Zuhri, 1979: 185)
            Menjadi seorang santri tidaklah hanya berkutat pada ilmu keagamaan semata, namun juga harus bisa berbaur dengan masyarakat sekitar pondok pesantren tempat menuntut ilmu. Seorang santri akan lebih mengetahui hakekatnya ketika telah mematuhi apa yang telah didapatkan saat menjadi santri. Seperti kalimat yang dikatakan oleh pengasuh pondok pesantren Al-Munawwir Ndlajo Klaten, beliau mengakatan bahwa seorang santri itu seperti ayam petarung. Maksud dari ayam petarung disini adalah dididik untuk tidak bersikap sombong setelah keluar dari pondok pesantren dan lebih bersikap merendah dengan segala kemampuan yang telah dimiliki.
            Dalam pondok pesantren NU yang telah saya observasi, terdapat banyak kajian-kajian yang dilakukan oleh pondok pesantren dalam mengembangkan adat pesantren. Karena pengasuh pondok pesantren berasalh dari pondok tahfidz dan salaf Lirboyo, maka pengasuh ponpes menggabungkan kedua pembelajaran yang diperoleh sebagai metode pembelajaran dalam pondok pesantren.
Program Pendidikan di  Pesantren Al Munawwir, Ndlajo, Klaten
            Syarat menjadi santri pada Pondok Pesantren Al-Munawwir adalah mengikuti placement test untuk mengetahui sejauhmana pengetahuan calon santri dalam bidang bahasa, maupun  pengetahuan tentang kitab kuning maupun tentang kitab-kitab yang diajarkan di pondok pesantren. Jika belum memenuhi persyaratan pada jenjang pertama maka santri akan ditempatkan pada kelas persiapan yang disebut halqoh i’dadiyah.
            Jenjang pendidikan yang ditempuh di Pondok Pesantren Al-Munawwir atau sering disebut sebagai Madrasah Diniyyah antara lain :
1.      Kelas i’dadiyah ( kelas paling dasar yang memabahas kitab kitab dasar)
Kitab yang digunakan dalam madrasah diniyyah kelas i’dadiyah adalah Alala Tanalul Ngilma, Pasolatan, Ngudi Susilo, Bahasa Arab, dan Akhlaqul Banin.
2.       Kelas ibtidaiyah 1
Kitab yang digunakan dalam kelas ibtida’iyah 1 adalah  Hidayatussibyan, Aqidatul Awam, Akhlaqul Banin, Maba’di Fiqhiyyah, dan sholawat Al-Baqrzanji.
3.      Kelas ibtidaiyah 2,
Kitab yang digunakan dalam kelas ibtidaiyyah 2 adalah Maba’di Fiqhiyyah 2, Akhlaqul Banin, Tanwirul Qori, dan hafalan Al-Quran tiap subuh disetorkan ke Abuya dan Al Fathu (tata cara membaca kitab gundul nahwu).
4.       Kelas ibtidaiyah 3
Kitab yang digunakan dalam kelas ibtidaiyyah 2 adalah Maba’di Fiqhiyyah 2, Akhlaqul Banin, Tanwirul Qori, dan hafalan Al-Quran tiap subuh disetorkan ke Abuya. Kelas ibtida’iyah 3 juga mempelajari kitab Al amtsilati attasrifiyyah (shorof) dan Al qowaidul awal (shorof).

            Dalam pondok pesantren al munawwir ndlajo klaten lebih berfokus pada pengajaran ilmu-ilmu Al-Quran dan Fiqih karena pondok pesantren berfokus pada Tahfidzul Qur’an. dalam hal ini kurang terlalu membahas tentang kitab-kitab kuning, membahas pun hanya sedikit seputar nahwu dan shorof dasar
Strategi pembelajaran yang digunakan dalam pondok pesantren tahfidzul qur’an ini antara lain :
1.      Kitab sebagai pelengkap (fokus pada ilmu al qur’an).
2.      Setiap guru memiliki strategi pembelajaran yang berbeda-beda sesuai dengan basic yag dimiliki seorang guru ngaji.
3.      Metode pembelajaran salah satu guru yaitu Pak Salam (lurah pondok) lebih cenderung kepada membuat santri senang dengan pembelajaran, soal pemahaman itu tidak dipermasalahkan.
4.      Santri harus banyak prihatin (melakukan puasa, amalan amalan, sholawat nariyah dll).
5.      Pembelajaran kitab kuning (sorogan=ngaji kitab lalu dibenarkan oleh guru dan bandongan= memaknai kitab secara bersama sama).
6.      Kebiasaan santri sebelum menuntut ilmu adalah mereview ulang bab yang dipelajari terdahulu, supaya tidak kehilangan pokok bahasan terdahulu sebelum memasuki bab baru.
7.      Dalam pondok banyak sekali mengajarkan kepada santri mengenai adab menuntut ilmu dan adab kepada guru serta orang tua.
8.      Dalam menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ndlajo ini diawali dengan menghafal 7 surat penting (Al-Mulk, Ar-Rahman, Al-Waqiah, Ad-Dhukhan, As Sajdah, Yaasin, dan Al-Kahfi) kemudian baru dilanjutkan menginjak juz 1 dst.

Kitab Kuning Rujukan Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ndlajo, Klaten
            Dikarenakan pondok pesantren berdiri belum lama maka kategori pembelajaran yang diterapkan masih sedikit belum sebanyak pembelajaran pada pondok pesantren yang telah lama. Pokok pembelajarannya antara lain :
a.       Fiqih
·         Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 1
·         Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 2
·         Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 3
·         Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 4
b.      Akhlaq
·         Alala tanalul ngilma
·         Akhlaqul Banin
c.       Tauhid
·         Aqidatul Awam
d.      Tajwid
·         Tanhilul Qorib
·         Tanwilul Qori’
·         Hidayatussibyan
e.       Nahwu
·         Al Fathu (tata cara membaca kitab gundul)
·         Jurumiyah 
f.       Shorof
·         Al amtsilati attasrifiyyah (shorof)
·         Al qowaidul awal (shorof)
Penjelasan kitab-kitab yang digunakan :
a.       Al amtsilati attasrifiyyah (shorof). Kitab ini digunakan sebagai kitab kuning rujukan yang membahas mengenai gramatika bahasa arab, tashrif, atau biasa disebur dengan bapaknya ilmu nahwu (Jurumiyah).
b.      Al qowaidul awal (shorof). Dalam pemahasan ini juga sekitab dengan al-amtsilati attasrifiyyah membahas mengenai gramatika bahasa arab.
c.       Bahasa arab yang disusun oleh Zubardi Hasballah. Dalam kitab bahasa arab ini hanya membahas kosa kata dalam bahasa arab pegon yang sifatnya mudah diterima oleh anak-anak kecil sehingga kitab ini diajarkan pada kelas i’dadiyyah.
d.      Ngudi susilo disusun oleh Kyai Bushro Mustofa Rembang. Kitab ini membahas mengenai pendidikan akhlak seorang santri yang bisa menjadi pembeda diantara  orang yang bukan santri (bisa berupa cara bersalaman anatara santri dengan Kyai, adab tata krama dll)
e.       Allal tanalul ngilma. Kitab ini membahas tentang akhlaq santri, bagaimana akhlaq menuntut ilmu, bagaimana akhlaq murid kepada guru, dll. Kitab nadhoman Alala ini sangat lumrah diajarkan di semua pesantren di jawa, karena ktab ini berisi tentang motivasi dalam menuntut ilmu.m
f.       Pasolatan. Kitab Pasolatan ini membahas berbagai hal mengenai sholat, baik dimulai dari thoharoh hingga tata cara sholat dan sunnah-sunnah sholat hingga amalan dalam sholat.
g.      Hidayatus sibyan oleh Syech Imam Ahmad  Mutahara bin Abdu Rohman. Kitab ini berisi tentang opembahasan tajwid dalam Al-Qur’an
h.      Maba’di fiqihiyyah oleh Amar Abdul Jabbar Juz 1
i.        Maba’di fiqihiyyah oleh Umar Abdul Jabbar Juz 2
j.        Akhlakul Banin disusun oleh Umar bin Ahmad Barroja’. Kitab ini membahas tentang bagaimana akhlaq nabi dalam kesehariannya. Setelah saya mengikuti pembelajaran akhlaqul banin ini di malam terakhir live in atau malam minngu, Abuya menjelaskan kajian dalam kitab ini mengenai akhlaq seorang anak kepada ibunya dan orang tuanya.
k.      Tanwirul Qori’ disusun oleh K.H Muhammad Mundzir Nadzir
a.            Al Fathu (tata cara membaca kitab gundul)  buku tentang nahwu.
a.            Aqidatul Awam ditulis oleh Ahmad Al-Marzuqi Al Maliki Al Makki. kitab ini berupa syair nadhoman yang  membahas mengenai ketauhidan atau keesaan Allah. Dalam kitab ini salah satunya membahas tentang sifat wajib Allah, sifat mustahil Allah, dan sifat jaiz Allah.

Rutinan Sebagai Penghormatan Kepada Nabi di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ndlajo, Klaten
            Di pondok pesantren Al Munawwir Ndlajo, selain menerapkan mengaji melalui madrasah diniyyah, pesantren ini juga terdapat rutinan yang berkaitan langsung dengan masyarakat desa sekitar pondok pesantren. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya pendirian pesantren ini merupakn sebuah kerangka dakwah dengan cara membaur dan mengenalkan masyarakt sekitar kegiatan yang biasa dilakukan di pondok pesantren umumnya.
            Kegiatan yang rutin dengan masyarakat sekitar yaitu sholawatan Al Barzanji dan Simtudduror. Dalam pelaksanaan sholawat Al Barzanji atau biasa disebut dengan diba’an. Kitab Al barzanji yang digunakan ditulis oleh Syech al barzanji. Rutinan Al Barzanji biasanya dilakukan oleh santri putri beserta Ibu Nyai Udit Iriyani sebagai pemimpin sholawatan. Santri putri biasanya sebagai backsoud dan memainkan alat rebana/terbangan. Dalam rutinan ini dilakukan setiap minggu dimana malam jumat minggu pertama di Pondok pesantren dilanjutkan  malam jumat minggu kedua di rumah warga begitu seterusnya. Biasanya dalam rutinan ini diikuti oleh ibuk-ibuk di sekitaran pondok pesantren. Terdapat sekitaran 50 orang yang mengikuti rutinan diba’an ini.
            Sementara itu, jika santri putri sedang melaksanakan rutinan al barzanji di rumah warga, santri putra juga melaksanakan rutinan di masjid pondok pesantren dengan sholawatan simtudduror. Biasanya kegiatan santri putra ini dipimpin oleh ketua pondok pesantren al munawwir ndlajo atau bisa yang lainnya. Jadi setiap minggu selalu ada rutinan sholawatan di pondok pesantren al munawwir ndlajo, baik putra maupun putri, baik di masjid pondok maumpun dirumah warga setempat.
            Selain mengaji rutinan sholawat Al-Barzanji, pondok pesantren Al-Munawwir Ndlajo ini juga mengadakan rutinan tiap malam senin membaca kitab Ratib Al-Haddad secara bersama-sama sehabis sholat Isya’. Mengapa dipilih waktu sehabis sholat Isya’? dikarenakan di waktu sehabis sholat maghrib digunakan santri untuk melakukan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an maupun meriview hafalan yang telah dihafalkan kepada Abuya sebagai pengasuh pondok pesantren.
            Pondok pesantren ini juga telah menerbitkan buku berisi kumpulan dzikir dan doa dengan judul At-Tanwiriyyah. Buku tersebut ditulis langsung oleh pengasuh pondok pesantren Al-Munawwir Abuya Muhammad Chafidz Tanwir.  Dalam buku tersebut berisi juga bacaan ratib dan banyak doa-doa harian. Pada pengamatan saya sewaktu live-in di pondok pesantren Al-Munawwir Ndlajo ini, hampir setiap santri memiliki buku kumpulan dzikir dan doa tersebut. Selain para santri memiliki buku namun juga mengamalkan bukunya dengan dibaca setiap saat.
            Pada saat yang bersamaa dengan live ini di pondok pesantren bertepatan dengan Hari Santri yang terdapat anjuran “satu miliyyar sholawat nariyah disetiap masjid, pondok pesantren dll”, sehingga semua santri melakukan amalan sholawat Nariyah sehari 106 kali tiap santri. Hal tersebut dilakukan karena kehendak pengasuh pondok pesantren agar selalu diberi kedamaian dalam hal apapun. Amalan tersebut juga dilakukan hingga pembangunan pondok pesantren yang baru selesai dikerjakan (karena pada saat yang sama juga dilakukan pembangunan gedung baru untuk santri putri).
            Kesimpulan dari berbagai penjelasan yang telah saya jelaskan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pondok pesantren ini berfokus pada ilmu Al-Qur’an dan Fiqih. Pondok ini merupakan pondok dengan basic aliran NU, hal ini bisa dilihat dari berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Pondok ini juga telah menerapkan berbagai kitab-kitab dasar dalam pembelajarannya. Kitab-kitab tersebut belum terlalu mendalami kitab kuning secara menyeluruh dan mendalam karena keterbatasan pengasuh sendiri yang lebih unggul dalam hal hafalan Al-Qur’an.









Keterangan :

Nama Pondok Pesantren         : PP Al-Munawwir, Ndlajo, Klaten
Tanggal Live in                       : Jumat-Minggu, 19-21 Oktober 2018
Alamat                                    : Kadilajo RT 02/RW 01, Kadilajo, Karangnongko, Klaten.
Kelompok Live in                   : 1. Yusi Aylia Sumarno
                                                  2. Alfiana Zahwa Nur Rokhmat
                                                  3. Santi Andika
                                                  4. Sela Maghribi Nur Hidayah
Sejarah Singkat                       : Pondok Pesantren Al-Munawwir, Ndlajo, Klaten ini merupakan cabang dari Pondok Pesantren Al-Munawwir di Krapyak Jogja. pondok pesantren ini diasuh oleh Abuya Muhammad Chafidz Tanwir dan Ibu Udit Iriyani. Pondok ini baru berdiri sekitar 10 tahun an. pondok ini berfokus pada ilmu Al-Quran dan hafalan Al-Quran. Pengasuh pondok pesantren Abuya Chafidz Tanwir beserta keluarga baru menempati pondok pesantren sekitar Agustus 2014 dimana sebelumnnya jika mengajar di pondok pesantren Al-Munawwir Ndlajo ini di laju  Jogja-Klaten.  Dalam kurun waktu 10 tahun ini sudah terdapat kurang lebih 50 santri yang merupakan gabungan antara santri putra dan putri.   Pondok pesantren  ini juga mempunyai berbagai kegiatan rutinan seperti pondok pesantren lama pada umumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KULIAH DARING, JANGAN BIKIN GARING Alfiana Zahwa Nur Rokhmat Kota Solo ditetapkan statusnya menjadi KLB (Kondisi Luar Biasa) akiba...