Jumat, 03 April 2020


KULIAH DARING, JANGAN BIKIN GARING

Alfiana Zahwa Nur Rokhmat


Kota Solo ditetapkan statusnya menjadi KLB (Kondisi Luar Biasa) akibat ditemukan salah satu masyarakat di Solo terkena Covid-19. Kondisi tersebut langsung direspon oleh IAIN Surakarta dengan meliburkan semua mahasiswanya dimulai tanggal 15 Maret 2020 sampai 28 Maret 2020.Sepanjang 2 pekan tersebut perkuliah dianjurkan secara online. Perkuliahan daring dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 ( socialdistancing). 
Hampir dua pekan keluhan mahasiswa mengenai perkuliahan daring dilalui dan dianggap akan berakhir, pihak kampus mmem-publish Surat Edaran Rektor Nomor 4 Tahun 2020 yang berisi tentang perpanjangan perkuliahan daring (online) sebagai upaya pencegahan penyebaran covid-19 di lingkungan IAIN Surakarta tentu membuat semua mahasiswa berhamburan kembali ke kampung halaman. Mengapa demikian ? karena dalam surat edaran dijelaskan yang semula kuliah daring hanya sampai tanggal 28 Maret tapi diperpanjang sampai akhir semester genap. Tentu ini membuat semua mahasiswa berdiam diri di rumah.
Kuliah Dalam Jaringan (Daring) sudah berlangsung selama dua pekan bagi kalangan mahasiswa terkhusus IAIN Surakarta. Perkuliahan tersebut dianggap sebagai solusi para dosen untuk melanjutkan pembelajaran di tengah maraknya virus Corona (Covid 19). Solusi tersebut tidak serta merta mendapat respon positif dari kalangan mahasiwa. Banyak sekali mahasiswa yang mengkritik solusi tersebut kurang efektif sehingga banyak mahasiswa yang menjadikannya sebagai beban. Di kalangan mahasiswa, solusi tersebut dianggap sebagai “Solusi yang membutuhkan solusi” pasalnya banyak mahasiwa yang kesulitan mengakses internet di rumah masing-masing karena keterbatasan signal.
Kebijakan kuliah dalam jaringan (Daring) yang digalakkan setiap dosen ini merupakan beban bagi mahasiwa, mengapa tidak ? karena setiap harinya mendapatkan tugas yang berjubel meskipun kuliah sudah dilakukan melakui beberapa media seperti Whatsapp, Googleclassrom, dan Zoom. Sebagai salah satu media yang sering digunakan adalah Whatsapp. Aplikasi tersebut dianggap cocok untuk melakukan pembelajaran. Namun jika diamati pemakaian aplikasi tersebut membuat kuliah menjadi garing serta tidak bisa menyampaikan materi lebih banyak dan pembahasannya meluber sampai kemana-mana. Tak hanya sampai disitu, banyak mahasiswa yang kurang paham mengenai materi yang disampaikan. Kemudian mengajukan pertanyaan di grup Whatsapp, alih-alih dijawab dosen tetapi malah tertimbun dengan pembahasan tidak menyangkut materi (Misal: list absen oleh mahasiswa yang terlambat mengikuti kuliah daring).
            Kuliah Daring yang cukup membosankan (garing) apabila selalu dilakukan dengan membagikan materi PPT yang telah dibuat ke grup perkuliahan, kemudian direspon hanya segelintir mahasiswa. Sehingga kurang efektif dan kondusif di situasi sekarang ini. Dengan kondisi yang seperti ini seharusnya dosen mampu mencari sara agar mahasiswa mampu memahami materi bukan hanya sekedar dari tulisan di Whatsapp (karena kebanyakan tidak dibaca dan diskip saja).
Di sisi lain, kuliah daring ini dimanfaatkan oleh segelintir mahasiswa yang malas untuk memperbaiki absen. Bagaimana tidak ? apabila perkuliahan offline atau di kelas dipastikan ada beberapa mahasiswa yang tidak masuk ataupun terlambat. Nah dengan kuliah daring ini tidak sedikit mahasiswa hanya akan fokus pada saat perkulihan dimulain saja. Misalnya hanya ikut nimbrung pada saat menjawab salam dari dosen dan mengetik nama untuk absen. Setelah itu, dapat dipastikan banyak mahasiswa yang entah kemana tidak muncul-muncul. Apalagi jika kuliah daring dimulai jam 7, pasti kebanyakan mahasiswa hanya akan absen saja kemudian entah dilanjut tidur lagi atau entah kemana karena kuliah daring dianggap membosankan.
Menurut hemat saya, alangkah baiknya apabila perkuliahan daring ini dosen membuat video mengenai materi perkuliahan kemudian baru di-share ke mahasiswa atau menggunakan aplikasi lainnya yang mendukung. Selai itu, bisa juga dosen menggunakan game dalam pembelajaran. Games ini dapat berupa beberapa soal kuis yang kemudian bisa diakses oleh mahasiswa secara bersama-sama (Misal menggunakan quizizz.com). Dengan bergitu kuliah daring yang semula membosankan dan garing dapat berubah menjadi perkuliahan yang menyenangkan bagi mahasiswa. Terakhr, semoga covid-19  segera berlalu dan perkuliahan daring tidak perlu sampai akhir semseter genap J

Senin, 21 Oktober 2019

Oke-Pet: Transformasi Koperasi di Era Digital



Oke-Pet: Transformasi Koperasi di Era Digital

Penulis : Muhammad Permadi, Sinta Ari Susanti dan Alfiana Zahwa Nur Rokhmat



Dunia sudah memasuki era digital. Semua bidang kehidupan harus bisa mengikuti perkembangannya agar dapat mempertahankan eksistensinya di era tersebut. Hal ini yang mendorong koperasi untuk mengadakan transformasi ke teknologi digital dalam memaksimalkan pelayanan kapada para anggotanya. Dalam mencapai tujuan tersebut, koperasi digital harus mengetahui selera dan kebutuhan masyarakat masa kini.
Berbicara mengenai kebutuhan masyarakat, kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara agraris, sehingga banyak masyarakat yang bekerja sebagai petani dan peternak. Namun kesejahteraan petani dan peternak belum sepenuhnya tercapai. Permasalahan yang melatarbelakanginya adalah petani dan peternak kesulitan dalam menjual hasil pertanian dan peternakan mereka. Tak jarang kita temui petani dan peternak menjualkan produk mereka kepada pengepul. Padahal apabila hasil tersebut dipasarkan sendiri maka keuntungannya akan semakin besar dan kesejahteraan mereka pun akan meningkat. Permasalahan lainnya adalah berkurangnya lahan pertanian yang berbanding terbalik dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia yang selalu meningkat tiap tahunnya dengan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia pada tahun 2010-2016  mencapai 1,36% (BPS, 2017).
Pertumbuhan penduduk tersebut berbanding terbalik dengan jumlah lahan pertanian di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan  bahwa luas lahan untuk pertanian terus menurun. Pada tahun 2017, lahan pertanian seluas 7,75 juta hektare sedangkan di tahun 2018 mengalami penurunan lahan dan hanya tersisa 7,1 juta hektare (www.cnnindonesia.com). Di samping sulitnya dalam melakukan pendistribusian hasil panen, jumlah lahan yang semakin menurun tersebut membuat banyak petani dan peternak lebih memilih merantau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Di era digital ini, selera masyarakat terhadap jual beli lebih memilih dilakukan secara online. Masyarakat lebih mengutamakan keefisiensian waktu sekaligus memudahkan mereka. Alasan lainnya, masyarakat dapat menentukan pilihan harga dan melakukan pembayarannya secara online juga (Cholicul Hadi dkk, 2013). Melihat banyaknya pengguna gadget dan keunggulan dalam jual beli online, maka perlu inovasi koperasi digital yang mampu mewadahi petani, peternak dan masyarakat sebagai bentuk dari transformasi koperasi masa kini.
Inovasi yang dihadirkan oleh mahasiswa millennial untuk membantu petani, peternak dan masyarakat adalah dengan membuat sebuah aplikasi jual beli hasil tani dan ternak. Aplikasi tersebut bernama Oke-Pet. Oke-Pet merupakan solusi yang sudah disesuaikan dengan selera masyarakat masa kini dan mempunyai tujuan untuk mensejahterakan petani dan peternak. Mensejahterakan petani dengan membantu menjualkan hasil sawah ataupun limbah sawah sehingga menambah penghasilan petani. Mensejahterakan peternak dengan membantu menjualkan hasil ternak ataupun limbah ternak (kotoran) serta membantu mencarikan inseminasi sperma unggulan untuk menciptakan ternak yang terbaik. Membantu masyarakat untuk mencari kebutuhan sehari-hari dengan biaya yang murah karena langsung melalui petani atau peternak. Serta membantu masyarakat untuk mengurangi limbah rumah tangga organik untuk dijual kepada peternak sebagai makan ternaknya. Membantu pelaku usaha untuk mencari bahan baku usahanya dengan biaya yang murah dan dekat dengan tempat usaha yang dimiliki.

Ada beberapa kelebihan dari produk aplikasi Oke-Pet ini yaitu yang pertama, dapat memudahkan petani, peternak dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya melalui koperasi dalam genggaman. Kedua, Pembeli atau masyarakat bisa dengan mudah mengakses tanpa terkendala harga yang mahal, karena dalam aplikasi ini sudah tertera berbagai produk yang diperjualbelikan dengan harga yang bersaing. Ketiga, saling menguntungkan antara berbagai pihak yang terlibat seperti petani, peternak, mayarakat dan UMKM. Keempat, Pembayaran bisa melalui cash payment ataupun online payment. Jika membayar secara tunai maka pembayaran dilakukan saat barang sampai di tujuan. Jika online payment  maka pembeli membayar pada saat barang telah sampai. Kelima, Oke-Pet sebagai wadah untuk memasarkan barang dari hasil panen petani dan peternak dengan waktu yang cepat.
Oke-Pet merupakan bukti bahwa koperasi sudah mengikuti era digital. Oke-Pet sebagai bentuk transformasi koperasi masa kini. Penyesuaian dengan selera dan kebutuhan masyarakat sudah dilakukan, diharapkan dapat sesuai dan bermanfaat bagi banyak pihak, dan menjadi solusi yang solutif bagi koperasi saat ini.

#PRAJA2019
#anugerahMISGroup
#koperasi
#wirausaha 
Daftar Pustaka
Susanti, Vivi dan Cholichul Hadi. 2013. “Kepercayaan Konsumen dalam Melakukan Pembelian Gadget secara Online”. Jurnal Psikologi Industri dan Organisasi Vol. 02. No. 01, April 2013.

Website Badan Pusat Statistik www.bps.go.id Diakses pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 20:00.

CNN Indonesia. “BPS Sebut Luas Lahan Pertanian Kian Menurun” . Diakses pada tanggal 20 Oktober 2019.



 


KULIAH DARING, JANGAN BIKIN GARING Alfiana Zahwa Nur Rokhmat Kota Solo ditetapkan statusnya menjadi KLB (Kondisi Luar Biasa) akiba...